Newspaper

Newspaper

Sabtu, 06 September 2014

Teman Antik

"He....."  Kata itu selalu terngiang ditelingaku. Entah mengapa salah seorang temanku selalu memanggilku dengan sebutan itu. Padahal dia tahu dan mengenalku. Sering kali ku tanyakan alasannya tapi selalu tak ada jawaban yang pasti.
 Dia salah seorang temanku yang pendiam, misterius dan puitis bagiku. Karena setiap kali kutanya serius, alhasil jawabannya selalu berupa kata-kata bijak atau nggak puisi yang sangat sulit untuk aku terjemahkan. Seperti halnya “Kelak Engkau Akan Mengetahuinya” , “Ada Rahasia di Balik Rahasia” dan yang terakhir “Biasane banyak hal tersembunyi dari orang yang hemat kata” . Itu merupakan beberapa kalimat jawaban dari smsnya kepadaku.
  Begitu banyak kemisteriusan yang aku tangkap dari sikapnya. Buktinya ketika aku ingin keluar dari kelas dan membuka pintu, sedangkan dia berada di luar ingin masuk ke dalam kelas. Saat aku buka pintu  itu, dia malah kaget dan berkata “astaghfirullahaladzim ….” Sungguh dalam hati ku berkata “Memangnya aku setan !”
  Sejenak ku mengingat kejadian saat dia tidak mau membayarkan iuran SPPnya kepadaku yang pada saat itu menjabat sebagai bendahara kelas. Sampai-sampai bukti pembayarannya hilang, dan aku harus kena marah oleh guru. Saat ku tanya mengapa, dia menjawabnya dengan kata-kata bijak lagi. Sungguh dia bak pujangga yang sudah melalang buana keliling dunia hingga setiap katanya selalu disisipi dengan puisi. 
  “Hm….” Semua perlakuan yang ia berikan kepada teman-temanku sangat berbeda dengan apa yang dia lakukan kepadaku. Dia hanya berani berbicara denganku lewat pesan saja. Sedangkan di sekolah hal itu tidak berlaku baginya.
   Buktinya saat satu kelas memutuskan untuk makan bersama. Semua anak datang dan berbicang- bincang dengan riangnya. Diapun juga mengobrol dengan teman satu kelasku yang lain. Namun setelah aku datang menghampiri, tiba-tiba dia langsung diam seribu bahasa dan berusaha mengalihkan perhatiannya dengan menunduk sambil memainkan ponselnya.
  Meskipun kebanyakan kemisteriusannya hadir. Namun sesekali dia sangat baik kepadaku. Pernah suatu ketika aku ingin mengambil barangku dari bus saat rekreasi sekolah dan aku tidak kuat dengan asap bus tersebut. Dia tiba-tiba datang menghampiriku dan merelakan tenaganya untuk mengambilkan tasku. "Iki..." setelah itu ia pergi. 
   Ia juga pernah meminjamkan charger ponsel karena pada saat itu charger ponselku bermasalah. Semua sikap baiknya itu ku berikan apresiasi. Meskipun tetap saja ia memanggilku dengan sebutan "He ..." 
   Namun akhir-akhir ini, aku merasakan hal yang janggal darinya. Dia mau mengobrol denganku. Meskipun itu hanya lewat social media. Tapi hal itu sudah menunjukan bahwa dia masih mengingatku . Dan dari situ banyak hal yang aku ketahui tentangnya. Setelah hampir satu tahun kita tak berjumpa.  
   Kebanyakan dari statusnya berisikan sebuah puisi, selain itu dia juga sering menge-like kata-kata bijak yang artinya sangat bermakna sekali. Tak biasanya dia seperti itu. Padahal biasanya dia hanya online 2 bulan sekali, tapi akhir-akhir ini hampir setiap hari ia bisa lakukan itu.
  Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya. Kusapa dia dan kujabat tangannya. Di terlihat kaku dan terkejut ketika aku ia mengetahui aku berada disana. Dia hanya meninggalkan sesimpul senyuman lalu berlalu.
 Semua perlahan-lahan mulai terbuka. Tentang apa yang ia maksudkan selama ini. Akupun mulai mengerti dan memahaminya. Namun ku terlambat mengetahuinya. Karena kita sudah tidak dalam satu lingkup sekolah. Dia disana dan aku disini. Dia terdiam akupun terdiam. Semuanya terasa begitu sulit. Hanya dengan berdoa dan ber positive thinking agar semua diberikan yang terbaik. Ku percaya tentang  “ Apa yang Kita Tanam, Itulah yang Kita Tuai “ Semoga …J