Newspaper
Rabu, 11 November 2015
Hilangnya Kepribadian Bangsaku
Pekan ini dapat kita jumpai di acara Mata Najwa edisi "Putra Bangsa Cokroaminoto" yang memutarkan sebuah fakta sejarah bahwa di dalam mencintai suatu bangsa bukan dari luar diri seseorang melainkan dari dalam diri sendiri. Sebuah ciri khas bangsa yang kuat dapat mematahkan seluruh pengaruh dimensi luar yang begitu santer sedang terjadi di Indonesia. " Tidak perlu sorban sebagai penutup kepala untuk mengajarkan dan mengobarkan tiang agama" dan "Tidak perlu blangkon untuk mengenalkan budaya maupun seni yang merupakan indentitas bangsa." hanay dengan persatuan dan rasa nasionalisme yan gdapat mempertahankan negara Indonesia dengan ciri khasnya, keanekaragamannya yang begitu hakiki.
Inilah Indonesia, benar-benar Indonesia yang tahu akan dirinya tanpa mencontoh bangsa lain yang berbeda visi maupun misinya. Menjadi diri sendiri, pribadinay sendiri yang berdasarkan pancasila sebagai dasarnya. Pancasila yang sejati, yang memaknai setiap sila maupun lambangnya dengan penuh arti. Bukan hanya ucapan yang dikumandangkan setiap senin pagi. Saat ini banyak penduduk Indonesia baik kecil yang masih sekolah maupun yang dewasa yang telah bekerja tidak hafal dengan pancasila. Hal ini dibuktikan di acara Hom Pim Pa Global TV edisi Rabu, 8 April 2015 yang mewawancarai warga di jalan Rasunan Said. Ternyata kepribadian bangsa telah hilang. Maknanya tidak melekat sama sekali.
Disebagian daerah sudah banyak bermunculan paham- paham ataupun aliran yang bertentangan dengan pancasila. Perlahan-lahan tanpa kita sadari kepribadian bangsa kita digeser dengan masuk ke setiap aspek kehidupan. Pengaruh itu sangat besar namun tak terlihat dan terkadang sering diacuhkan. Tujuannya untuk menggeser ideologi dan kepribadian bangsa. Tindakan yang dilakukan sangat meresahkan warga. Melihat hal ini, sebaiknya sebagai bagian dari bangsa Indonesia kita berusaha mempertahankan kepribadian bangsa kita yang sudah pasti selaras dengan ideologi bangsa.
Upaya yang harus dilakukan adalah mengenalkan dan menghidupkan kembali identitas bangsa seperti budaya yang saat ini terkikis dengan adanya globalisasi. Dengan memberikan pelajaran seni tari daerah dan alat musik daerah di setiap sekolah di mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Lalu melombakan seni tari antar daerah tersebut seperti dulu kala. Namun tanpa kesadaran dari diri kita sendiri maka upaya ini tidak akan terlaksana. Selain itu toleransi juga merupakan kepribadian bangsa. Seluruh rakyat Indonesia setara tanpa membedakan SARA. Karena di zaman penjajahan mereka juga ikut berjuang merebut kemerdekaan demi Indonesia Raya. Namun perbedaan ini seharusnya menjadi keragaman dan daya tarik tersendiri walau berbeda- beda tetap satu.
Sebaiknya kita hidup bermusyawarah dengan menggunakan tuntunan pancasila. Tidak seperti wakil rakyat yang tidak menjunjung musyawarah. Sebagian besar naik-naik meja sampai menggebraknya. Tanpa mengingat menerima pendapat orang lain merupakan ciri bangsa Indonesia. Hal ini karena tidak mau mendalami makna pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jadi jika kita mau berusaha mencintai tanah air dan melaksanakan pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. maka kepribadian bangsa kita akan kembali seperti semula seperti zaman awal kemerdekaan Indonesia.
Seyogjanya masyarakat menyadari bahwa pancasila sangat baik jika diterapkan kandungannya. Dengan begitu negara Indonesia akan bersatu padu kembali tanpa ada kekerasan satu sama lain. Kemanusiaan ada sikap dasar yang harus dimiliki setiap orang untuk saat ini.
Langganan:
Komentar (Atom)
