Suatu hari disaat Andini meneruskan cerita di kehidupannya.
Ia menemukan seorang teman baru yang sangat friendly dengannya. Ia adalah
seorang anak dari desa juga bernama Firman. Firman yang memperkenalkan diri
dengan Andini. Sekitar tahun 2010 tepatnya di bulan Agustus. Mereka berdua
saling mengobrol hingga akhirnya Firman berjanji akan menelpon Andini. Disaat
waktu yang dijanjikan tiba Andini menagih janjinya kepada Firman. Ternyata
janji itu tidak ditepati... Hingga usut demi usut ternyata Firman hanya
menggodanya. Sampai saat Firman online Andinipun menanyakannya. Firman akhirnya
mengirim pesan kepada Andini . Dengan sapaannya “Haloo....” seketika Andini
tahu bahwa ia memang benar-benar ingin berteman dengannya.
Hari demi hari berlalu. Pertemanan tersebut terjalin sudah
hingga akhirnya semakin dekat semakin dekat. Sehingga membuat Andini yakin
bahwa Firman adalah orang yang pantas menjadi sahabatnya. Oke deh ... Andini
menjadikan Firman sahabat barunya setelah 2 sahabat lainnya. Sungguh
persahabatan itu terjalin cukup baik meskipun sering ada percecokan sedikit
namun itu bisa diatasi oleh Andini. Firman dan Andini saling mengalah dan
menerima satu sama lain.
Hingga waktu tak terasa berjalan selama 1 tahun 8 bulan.
Dimana masalah muncul. Suatu hari Andini mendapat telpon dengan suara perempuan
beberapa kali namun tidak mau menjelaskan siapa dia. Selain itu ia juga
mengirim pesan yang bertanya seperti apa Firman itu ? Dengan rasa kaget dan
bingung siapa yang bertanya ini. Akhirnya anak perempuan ini mengaku ia bernama
Silviana . Dan ternyata Silviana adalah pacar Firman. Andini merasa malu karena
ia menjawab Firman itu baik dan ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Firman.
Hanya sekedar bersahabat saja. Namun Silviana terus mendesak hingga akhirnya
Andini berkata “Tanya saja kepada Firman sendiri” .
Beberapa hari kemudian, Andini mengirim pesan kepada Firman
untuk meminta Silviana tidak mengirim pesan setiap hari karena Andini sedang
banyak tugas. Firman pun mengiyakan hal tersebut. Dengan jawaban yang pasti itu
Andini pun lega. Andini hanya meminta agar jangan terlalu sering saja.
Saran tersebut ternyata diterima dengan pengertian yang
salah. Silviana malah hanya mengirim pesan salam saja kepada Andini.
Selanjutnya selesai. Hal tersebut membuat Andini tidak enak. Ia meberitahukan
hal tersebut kepada Firman. Dan Firman menjawab “ Gak ada apa-apa , tenang saja
..” Mendapat jawaban seperti itu Andini menjadi bingung.
Hari berganti demi hari Silviana tidak mengirim pesan sama
sekali. Menanyakan kabarpun tidak. Andini menanyakan kepada Firman. Katanya
Silviana sibuk ... ditelpon juga tidak bisa. Andini akhirnya berpositif
thinking dengan Silviana. Firman mencoba menenangkan Andini dan mencoba
menyakinkan Andini jika Silviana tidak marah kepadanya. “Ok ..” itulah jawaban
dari Andini.
Suatu hari ketika penasaran itu semakin tinggi. Andini
mencoba menelpon Silviana dan ternyata tidak bisa. Dan Andini berpikir ketika
Silviana mengirim pesan, Firman selalu tidak mengirim pesan kepadanya. Dan jika
Firman sedang mengirim pesan kepada Andini , Silviana tidak mengirim pesan.
Andini berpikir apakah Silviana itu adalah Firman ? Pertanyaan itu selalu
terbayang dikepala.
Sampai akhirnya Andini mencoba membeli nomer ponsel
baru dan dikirimnya pesan untuk Firman dan mencoba menyamar sebagai Silviana.
Ternyata jawabannya apa ?? apa ?? apa ?? Jawaban adalah “Siapa itu Silviana ?”
Sontak Andini kaget dan itulah jawaban dari semuanya.
Sejak saat itu Firman tidak mengirim pesan lagi kepada
Andini. Andini bingung dengan sikap Firman. Jika Andini salah, lalu salah
darimana. Seharusnya Firman meminta maaf kepada Andini. Di kirimnya pesan oleh
Andini tapi tidak masuk. Dan setelah ditanya ternyata kehapus. Dan jika dihapus
mengapa mengirim pesan tidak masuk ? Andini sepintas berpikir ke belakang.
Mengingat perbuatannya untuk mengetahui siapa Silviana itu. Dengan hati ikhlas
Andini memutuskan untuk memaafkan Firman. Dan Firman pun menggantung, apakah dia marah atau memang dia
sudah tidak menganggap Andini sebagai sahabatnya.
Sahabat adalah seseorang yang mau mengerti dan menerima
kekurangan sahabatnya. Dan mau menegur apabila ada yang salah dalam diri
sahabat. Bukan malah menjauhinya hanya karena kebohongannya.
Mudah-mudahan dengan cerpen pendek ini, kalian bisa lebih
menghargai sahabat lagi ya ....
See you next time :D


.gif)
