Newspaper

Newspaper

Selasa, 28 Februari 2017

Pandi (Geting) dan Kanina (Pora)

                   Halo gedung bertingkat, sudah lama tak bertemu denganmu. Sekitar hampir tiga tahun ku meninggalmu setelah toga ini kudapatkan untuk kupersembahkan kepada kedua orang tuaku. Berjalan kumenapaki setiap sisi ruangan yang ada di dalamnya sambil sesekali bibir ini tersenyum mengenang masa-masa itu. Masa dimana aku dapat menemukan ketenangan, kenyamanan.
                   Dimana terdapat seorang yang mencoba meminjam uang Rp 500 sebagai alasan tidak membawa uang kecil. Menfoto saat memakai earphone bersama salah seorang teman. Pertandingan rotan duduk disamping mengenakan kaos hitam celana pendek merah. Jalan bertiga menuju pertandingan bola pantul. Mencoba tanggap dengan mengulurkan tangan agar dapat membantu menyapu lapangan dan berkata (kamu cewek, sini aku gantiin). Meminta tolong simpan barang berwarna putih saat akan sholat jumat. Selesai sholat ashar memanggil dari jalan dan gak jadi. Kemudian balik dan memanggil untuk kedua kalinya. "kumpul dmn ?". Saat ada acara di malam hari tepat di luar gedung. Mecoba peduli dengan berkata " Cerita o ke aku. Aku juga temanmu." Menitipkan kupon, mengajarkan bermain gitar dengan kunci e g d. Berusaha membantu membawakan buah tangan saat akan dikembalikan. Mencoba merekam 1 menit dengan handphoneny secara diam-diam. Dan mencoba di rampas. Foto bersama saat acara yang sejalan dengan harapannya.
                   Bertanya mengenai tugas ke seorang teman yang sedang bertamu di rumah dan hanya sekedar menanyakan telah sampai atau belum. Mengganti foto profil pada saat acara dimana aku berpenampilan tidak seperti biasanya. Berterimakasih saat salah seorang teman saat dia menyadari foto tersebut. Menanyakan mengapa mengganti sepatu abu-abu. Melihat pada saat memberi stnk kemudian melirik ke belakang. Duduk di belakang dan diam-diam ada yg menfoto. Menanyakan keadaan karena tidak seperti biasanya. Berusaha memberitahu bahwa ada semut dimana tanggapan santai saja karena itu semut hitam. Sempat kaget karena bingung dengan tanggapan tersebut. Malam saat rapat dengan koor dan ketua acara, dia jalan dan kita saling melihat, akhirnya ku lambaikan tanganku. Namun ia memalingkan muka. Tapi beberapa saat kemudian dia berhenti dan memanggil nama lalu menanyakan sedang apa ? Lalu dia pamit pulang. Menghampiri dan berusaha peduli dengan memberikan saran agar menjaga kesehatan dan tetap fokus dalam menuntut ilmu.
                    Iya... denganmu. GEdung TINGgi dengan tembok berwarna coklat sawo matang yang selalu kokoh setia berada di tempat yang penuh dengan kenangan. Kenangan.... banyak sekali cerita sedih maupun bahagia tertuang di dalamnya. Gedung tinggi yang selalu berusaha untuk dekat dengan sebuah POhon cemaRA rindang di sudut pintu gerbang.
                    Bolehlah aku pada hari mengenangnya walaupun hanya sebentar saja. Di ruangan yang penuh dengan referensi inilah yang membuat aku bertemu dengannya. Di tempat duduk ini, iya... di tempat duduk ini pertama kali aku berbicang dengannya yang sebelumnya hanya sekedar menyapa saja. Kita sangat nyaman berbicang sampai lupa jika kami akan melaksanakan ujian.
                     Senang sekali bisa mengunjungi gedung bertingkat ini kembali. Tak ada yang berubah dari mulai hal kecil hingga terbesarnya.
                     Perkenalkan .... namaku Kanina Kamaratih. Aku berasal dari Yogjakarta, Jawa Tengah. Tahun ini aku berusia 26 tahun. Bekerja sebagai penulis dan bussines woman (bakery).

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Let it flow
- - -- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Biarlah mengalir apa adanya
Sebab segala sesuatu itu butuh proses
Karena tidak akan tahu ke depannya
Yang ada srahkan seluruhnya hanya kepada - Nya

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

#SendiriLagi
#Sahabat

Senin, 27 Februari 2017

Yoar dan Tyasa

                 Disekitaran sekolah di dekat hamparan sawah nan hijau sedang dilaksanakan sebuah pewayangan yang luar biasa hingga membuat banyak orang datang berkerumunan untuk sekedar menyaksikan pertunjukan tersebut.
                 Dibalik seluruh panitia yang telah bekerja keras terdapat seorang anak bernama Yoar. Yoar adalah salah satu diantara panitia yang antusias dengan pewayangan ini. Tubuhnya besar, tinggi, berkulit sawo matang, dan selalu memakai jam tangan disebelah kanan. Yaap ... Yoar adalah anak yang sangat pandai dan mudah bergaul dengan banyak orang.
                  Berbeda halnya dengan Tyasa (Salah seorang panitia juga). Tyasa adalah seorang yang pendiam dan susah memulai untuk berbicara dengan orang yang baru dikenalnya. Yang terpenting menurutnya dia dapat berkontribusi dengan semaksimal mungkin tanpa perlu diketahui banyak orang.
                  "Siapa aku ... ??"
                  "Aku bukanlah orang baik yang seperti dia pikirkan" Kata Tyasa.
                  Kata-kata itu sontak muncul saat acara selesai dan seluruh panitia berkumpul. Disaat itulah Tyasa merasa ada sesuatu yang janggal. Ada seseorang yang selalu mencuri waktu untuk menatapnya.

                   Sebelum pewayangan itu berakhir,

                   Di sudut pintu, Tyasa menyadarkan kepalanya dengan tatapan penuh konsentrasi karena di saat itulah hasil kerjanya ditampilkan di layar. Disampingnya terdapat seorang panitia yang menanyakan Drio kepada Murey. Tetapi Murey tidak mengetahui Drio. Dan tiba-tiba panitia itu menanyakan pertanyaan yang sama kepada Tyasa. Seketika Tyasa berkata tidak tahu. Namun yang janggalnya lagi. Panitia itu tetap saja berdiri di samping Tyasa beberapa menit sampai akhirnya ia beralih ke hal lain.
                   Melihat kejadian tersebut Tyasa teringat dengan perkataan dalang dalam pentas pewayangan sebelumnya. Kata Arjuna (suara dalang "Ind") : "Bedakanlah antara kagum dan cinta. Karena keduanya kebanyakan terkesan salah dalam pengartiannya. Kagum adalah sebuah rasa suka pada kelebihan seseorang. Sedangkan cinta adalah sebuah rasa suka pada kelebihan dan kekurangan seseorang dengan kata lain sudah mengenalnya sisi buruk seseorang namun tetap suka tanpa ada alasan tertentu".
                  "Menawi tresna, kedhah dipun perjuangake. Menawi jodho mesti bali ugo"

                     Dua minggu kemudian setelah pewayangan tersebut
                 
                     Tyasa merencanakan untuk mengikuti kegiatan dalang selama pementasan pewayangan di beberapa kota. Perjalanan pun dilaluinya tanpa adanya hambatan. Namun saat adanya sesi foto bersama tak disangka orang yang sama tiba-tiba telah berada dibelakang Tyasa dan ikut berfoto bersamanya. Tanpa bisa berbuat apa-apa akhirnya sesi foto itu berakhir.
                      Sepulangnya darisana, saat turun dari kendaraan. Tyasa berusaha memakai jaket parasut karena di luar sedang turun hujan. Dan tak disangka-sangka Tyasa berpapasan. Sempat terjadi kebingungan beberapa detik karena Tyasa sempat berhenti karena kaget, ada yang mempersilahkannya untuk turun terlebih dahulu.

                      Biarlah diriku adalah diriku
                      Biarlah dirimu adalah dirimu
                      Segalanya tidak ada yang tahu
                      Jika kita dipertemukan untuk satu
                      Maka segalanya terserah pada - Mu


#SuratCintaUntukStarla
#AkuYangJatuhCinta
#71220,5