Disekitaran sekolah di dekat hamparan sawah nan hijau sedang dilaksanakan sebuah pewayangan yang luar biasa hingga membuat banyak orang datang berkerumunan untuk sekedar menyaksikan pertunjukan tersebut.
Dibalik seluruh panitia yang telah bekerja keras terdapat seorang anak bernama Yoar. Yoar adalah salah satu diantara panitia yang antusias dengan pewayangan ini. Tubuhnya besar, tinggi, berkulit sawo matang, dan selalu memakai jam tangan disebelah kanan. Yaap ... Yoar adalah anak yang sangat pandai dan mudah bergaul dengan banyak orang.
Berbeda halnya dengan Tyasa (Salah seorang panitia juga). Tyasa adalah seorang yang pendiam dan susah memulai untuk berbicara dengan orang yang baru dikenalnya. Yang terpenting menurutnya dia dapat berkontribusi dengan semaksimal mungkin tanpa perlu diketahui banyak orang.
"Siapa aku ... ??"
"Aku bukanlah orang baik yang seperti dia pikirkan" Kata Tyasa.
Kata-kata itu sontak muncul saat acara selesai dan seluruh panitia berkumpul. Disaat itulah Tyasa merasa ada sesuatu yang janggal. Ada seseorang yang selalu mencuri waktu untuk menatapnya.
Sebelum pewayangan itu berakhir,
Di sudut pintu, Tyasa menyadarkan kepalanya dengan tatapan penuh konsentrasi karena di saat itulah hasil kerjanya ditampilkan di layar. Disampingnya terdapat seorang panitia yang menanyakan Drio kepada Murey. Tetapi Murey tidak mengetahui Drio. Dan tiba-tiba panitia itu menanyakan pertanyaan yang sama kepada Tyasa. Seketika Tyasa berkata tidak tahu. Namun yang janggalnya lagi. Panitia itu tetap saja berdiri di samping Tyasa beberapa menit sampai akhirnya ia beralih ke hal lain.
Melihat kejadian tersebut Tyasa teringat dengan perkataan dalang dalam pentas pewayangan sebelumnya. Kata Arjuna (suara dalang "Ind") : "Bedakanlah antara kagum dan cinta. Karena keduanya kebanyakan terkesan salah dalam pengartiannya. Kagum adalah sebuah rasa suka pada kelebihan seseorang. Sedangkan cinta adalah sebuah rasa suka pada kelebihan dan kekurangan seseorang dengan kata lain sudah mengenalnya sisi buruk seseorang namun tetap suka tanpa ada alasan tertentu".
"Menawi tresna, kedhah dipun perjuangake. Menawi jodho mesti bali ugo"
Dua minggu kemudian setelah pewayangan tersebut
Tyasa merencanakan untuk mengikuti kegiatan dalang selama pementasan pewayangan di beberapa kota. Perjalanan pun dilaluinya tanpa adanya hambatan. Namun saat adanya sesi foto bersama tak disangka orang yang sama tiba-tiba telah berada dibelakang Tyasa dan ikut berfoto bersamanya. Tanpa bisa berbuat apa-apa akhirnya sesi foto itu berakhir.
Sepulangnya darisana, saat turun dari kendaraan. Tyasa berusaha memakai jaket parasut karena di luar sedang turun hujan. Dan tak disangka-sangka Tyasa berpapasan. Sempat terjadi kebingungan beberapa detik karena Tyasa sempat berhenti karena kaget, ada yang mempersilahkannya untuk turun terlebih dahulu.
Biarlah diriku adalah diriku
Biarlah dirimu adalah dirimu
Segalanya tidak ada yang tahu
Jika kita dipertemukan untuk satu
Maka segalanya terserah pada - Mu
#SuratCintaUntukStarla
#AkuYangJatuhCinta
#71220,5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar