Newspaper

Newspaper

Jumat, 08 Juni 2018

PEKA (Pengagum Karya)

                 Karya. Karya seperti apa ? Karya seni ? Karya sastra ? ataukah Karya ilmiah ? Dari ketiga itu yangmana yang spesifik ? Yap, Karya sastra. Sastra fiksi atau non fiksi ? Yap, Satra fiksi. Prosa, puisi, ataukah drama ? Hmm ....
                  Karya sastra fiksi yaitu puisi atau berupa sajak. Lima tahun belakangan ini aku tertarik dengan karya sastra yang satu ini. Entah mengapa bisa dikatakan cinta. Setelah ada salah satu sebab dimana aku harus mempelajarinya agar aku bisa mengartikan dan mendapat jawaban sebuah teka-teki. Sastra puisi atau sajak yang pertama kali aku pelajari dan membacanya adalah karya Eyang Sapardi Djoko Damono yang berjudul Melipat Jarak. Tak tahu mengapa, setelah membaca salah satu karya beliau tersebut kemudian aku berusaha mencari dan membaca karya-karyanya yang lain seperti Trilogi Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, dan yang baru pada Maret 2018 keluarlah novel yang menjadi akhir atau pungkasan dari Trilogi Hujan Bulan Juni yaitu Yang Fana Adalah Waktu beserta Sajak- Sajak untuk Pingkan. 
                   Maret 2018. Benar. Di bulan dan tahun tersebut novel trilogi Hujan Bulan Juni yang berjudul Yang Fana adalah Waktu tersebar di seluruh toko buku di Indonesia. Trilogi Hujan Bulan Juni dimulai dari novel pertama hingga ketiga semuanya sangat menyentuh dan mengena dalam diriku. Akibat dari itu, sejak bulan Maret tersebut seringkali aku membuat sebuah sajak yangmana aku tuangkan dalam salah satu media sosial. Pertama, kedua, ketiga dan seterusnya semuanya baik-baik saja. Namun yang aku tahu sejak awal pembuatan sajak tersebut, terdapat seorang yang selalu baik menunjukan apresiasinya terhadap karyaku dengan cara memberikan sebuah (jempol/sip). Aku berpikiran jika apa yang masing-masing kita rasakan pada saat itu sama-sama seirama dan sentantiasa sedang dalam tahap atau fase tersebut. Dia, sebut saja seseorang tersebut Gica. Selain sajak, seringkali aku membuat "posting"an hanya berupa satu kata saja. Tak kusangka ... satu kata yang aku buat yangmana aku rasa tak ada arti kiasan yang berarti tetap saja diapreasiasi olehnya. Perasaan seirama itu semakin kuat lagi. 
                    Gica adalah sosok kawan, pembimbing yang baik bagiku. Aku tahu Gica sudah terlampau lama. Sekitar sembilan tahun aku satu sekolah dengannya. Tetapi ... aku hanya tahu, benar-benar sekedar tahu dengan hanya mengenali wajahnya namun tak sedikitpun mengenalnya. Walaupun itu hanya sekedar tersenyum, aku pun tak pernah melakukannya. 
                    Beberapa bulan ini, belum mencapai satu tahun aku diperkenankan untuk mengenal Gica. Awalnya sempat minder, karena Gica adalah seseorang yang bisa dikatakan famous dan disegani siapapun selama ini. Namun terlepas dari itu ternyata Gica adalah sosok yang rendah hati, ceria, peduli, dan sangat ramah kepada orang lain hingga membuat diri ini memahami alasan mengapa dalam hitungan hari diri ini sudah cukup memahami karakter yang dimiliki oleh Gica.
                     Terima kasih sekali aku ucapkan untuk Gica atas apreasinya sejauh ini. Semoga sajak yang aku buat dapat membuat orang lain menyukainya pula. Selain itu akan menambah semangatku untuk berkreasi lagi. Terima kasih sekali lagi. 
                     

Rabu, 06 Juni 2018

Sahabat Kecilku D' San

                 Lima Belas Tahun ... Memang kenyataan selama itu. Dulu kita masih belia dan sekarang telah menginjak dewasa. Sosok sahabat di masa kecil yang begitu lembut, sopan, dan patuh kepada orang tua. Sosok yang dahulu intens dalam bertemu, bermain bersama baik itu di rumahku atau pun di rumahnya. Seketika menghilang setelah ku dikabarkan jika dia tidak akan tinggal di kota Ledre ini lagi dan akan pindah ke kota Seribu Taman. Sungguh pada saat itu aku merasa kehilangan sekali dan semenjak itu sama sekali tak ada kabar darinya yang ditujukan untukku. Kemungkinan dikarenakan kita masih belia dan belum mengerti apa-apa. Sehingga sosok itu selama ini dan hingga saat ini seperti meteor jatuh yang hanya sekejap saja hadir lalu menghilang dari bumi. Hingga rasanya seperti mimpi, apakah kejadian itu benar-benar ada di waktu itu dimana setiap detik, menit, jam, dan hari nya begitu samar untuk diingat kembali. Selama lima belas tahun ini kami begitu fokus dengan kesibukan kami masing - masing untuk menuntut ilmu. Hubungan orang tua kami pun juga terputus karena di masa itu belum ada yang namanya telepon genggam. Sungguh ... sudah begitu lama ku tak bisa berjumpa dengan sahabat kecilku ini. Benar - benar tepat lima belas tahun yang lalu. Sontak kehadirannya dulu yang begitu berarti menghilang tanpa jejak seperti seekor pinguin yang awalnya menetap lalu berhibernasi ke tempat lain untuk jangka waktu yang sangat lama dan sejauh ini tak kembali. Nama panggilan ataupun sapaannya kepadakupun aku lupa.  
                  Hari ini ... tak ada dentuman tak ada deringan setelah lima belas tahun berlalu, tiba - tiba orang tuaku mengirimkanku sebuah foto seseorang bertubuh jenjang tersenyum menatap kamera dengan kacamata yang tersemat pada kedua matanya. Aku sempat tak mengenali sosok tersebut. Tapi setelah beberapa saat kucermati ternyata dialah sahabat kecilku. Sungguh pada saat itu spontan ku terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Ternyata berkat teknologi yang saat ini semakin maju, silaturahmi antara kedua orang tua kami terjalin kembali. Benar-benar tak disangka dan sekalipun tak pernah terbersit dalam benakku. Sahabatku saat ini telah dewasa, begitu pula diriku. Dia sekarang berkuliah di salah satu Universitas di bagian tertimur pulau Jawa yang terkenal akan Suwar - suwir nya dan tahun ini akan menginjak semester akhir. 
                  Aku masih belum mengerti, apa arti dibalik semua ini. Setelah sekian lama tak berjumpa, tiba-tiba sahabat kecilku ini hadir kembali. Meskipun hingga saat ini belum ada respon dari pribadinya sendiri. Apakah dirinya masih mengingat ku ? atau hanya sekedar mengenal ku ? Akupun tak tahu. Yang pasti untuk saat ini, aku hanya ingin menjalin silaturahmi kami kembali. Meskipun aku rasa pasti untuk mengawalinya akan ada rasa canggung, karena kita telah lama tidak saling berhubungan satu sama lain. Karakter belia yang terdahulu pasti akan berubah dengan adanya adaptasi lingkungan yang saat ini menjadi karakter dewasa.

       Harapan dari ku untuk sahabat keciku :
       Semoga menjadi pribadi yang menjadi panutan
       Semoga diberikan kesehatan jasmani rohani dimanapun berada
       Semoga diberikan kesuksesan 
       Dan segala yang ingin dicapai dapat terealisasikan
                   
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
  Sahabat Kecilku - Gita Gutawa 
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali

Sahabat kecilku

Masihkah kau ingat aku
Saat kau lantunkan
Segala cita dan tujuan mulia

Tak ada satupun masa

Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya...

Tiada...Tiada lagi tawamu

Yang slalu menemani segala
Sedihku...

Tiada...Tiada lagi candamu
Yang slalu menghibur disaat
Ku lara...

Bila malam tiba

Ku slalu mohonkan doa
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi

Sahabat kecilku

Masihkah kau ingat aku...
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Foto : 1,6,2018
Mim : 06-07,6,2018