Newspaper

Newspaper

Minggu, 17 Februari 2019

AS (Arka Syahnas)

          Tak lebih dari 24 jam di sebuah pulau yang hanya berpenduduk sekitar 37.000 jiwa bertemulah dua insan manusia sebut saja Arka dan Syahnas di jalan setapak yang tidak dipenuhi kendaraan lalu lalang. Arka dan Syahnas saling berpapasan, namun pada saat itu Syahnas menunduk sedangkan Arka yang sebenarnya ingin menyapa dan berkenalan menjadi penasaran dengan Syahnas.
           Di lain kesempatan disaat ada acara jamuan makan siang mereka bertemu kembali. Arka duduk disebuah meja yang memiliki empat kursi dengan seorang temannya yang telah mengenal Syahnas lebih awal. Pada saat Syahnas datang dan melihat rekan Arka, akhirnya Syahnas memberanikan diri untuk izin ikut duduk diantara mereka. Saat Syahnas mencoba duduk dan tersenyum kepada Arka tiba-tiba Arka berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Syahnas. Melihat hal demikian, tanpa pikir panjang Syahnas berdiri dan mengulurkan tangannya pula, berjabat tangan dengan Arka sambil mengucapkan nama mereka masing-masing. Pada akhirnya mereka saling mengenal satu sama lain.
            Kesan pertama sungguh indah. Sebab di waktu yang kurang dari 30 menit tersebut percakapan diantara mereka terkhusus Arka dan Syahnas saling sejalan dan nyambung. Arka dan Syahnas memiliki hobi yang sama dan masih banyak lagi. Hobi tersebutlah yang membuat di ujung percakapan mereka menjadi sebuah ajakan dari Arka untuk Syahnas agar bisa menyalurkan hobi mereka bersama sore nanti. Selain itu entah mengapa pada saat itu Syahnas mengajak foto bersama untuk kenang-kenangan. Namun sayangnya mereka belum sempat untuk bertukaran nomor ponsel.
            Sesampainya di kamar, Syahnas menceritakan segalanya pada saat makan siang tadi kepada kedua orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tua Syahnas tidak mengizinkan Syahnas menyalurkan hobinya bersama dengan Arka. Pada akhirnya Syahnas tidak mengiyakan keinginannya untuk ke lokasi hobinya tersebut. Sedangkan Arka tetap mengiyakan keinginannya tersebut dengan berada di lokasi hingga petang hari.
            Keesokan harinya di suatu ruangan berukuran 5x5 meter Syahnas melihat Arka sedang berada di ruangan tersebut pada saat ia ingin menemui orang penting disana. Namun dikarenakan orang penting tersebut sedang melaksanakan rapat di depan ruangan berukuran 5x5 meter itu. Akhirnya Syahnas memberanikan diri untuk menyapa Arka dan meminta izin untuk ikut duduk sambil menunggu hingga rapat berakhir. Disanalah percakapan diantara keduanya berlanjut meskipun hanya sekitar satu jam saja. Topik yang mereka perbincangan sangat menarik hingga keduanya saling sahut- menyahut hingga teman Syahnas merasa terasingkan. Percakapan mereka diiringi rintikan hujan hingga berubah menjadi hujan deras.
            Saat orang penting yang ingin Syahnas dan temannya temui keluar dari ruang rapat, di waktu itulah percakapan antara Syahnas dan Arka harus berakhir. Syahnas berpamitan dengan Bee untuk terakhir kalinya dan menatap wajah Bee untuk terakhir kalinya di pulau tersebut dikarenakan Syahnas harus kembali ke rutinitasnya kembali setelah hampir 28 hari berada disana.
            Sesampainya di hanggar Syahnas mencoba berpamitan lewat pesan kepada seluruh temannya terkhusus kepada Arka. Sesampainya di kota tujuan akhir Syahnas, ia menginfokan hal tersebut di sebuah grup hingga setelah itu percakapan terus intens hingga saat ini.

            Meski Syahnas dan Arka saat ini tidak dapat bertemu, Syahnas yakin bahwa mereka akan dipertemukan kembali suatu saat nanti. Meskipun sebenarnya Arka berkata kepada Syahnas akan mengusahakan untuk berkunjung ke rumah Syahnas saat tugas dan urusannya telah selesai. Mungkin saja itu sekedar basa-basi.
            Syahnas memahami apa yang dilakukan Arka saat ini. Sebab ayah Syahnas juga berkecimpung di bidang yang sama. Oleh karena itu Syahnas paham dengan tak mau terlalu mengganggu dan ikut campur terlalu mendalam. 
            Silaturahmi yang masih tetap terjalin hingga saat ini menurut Syahnas sudah lebih dari cukup. Setidaknya Arka masih mengingat Syahnas walau disana dia telah memiliki rekan baru. Tidak mudah untuk mencari waktu tepat agar silaturahmi ini tetap terjalin. Sebab Arka memiliki kepribadian yang sangat unik. 

Bersambung ...
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Tak lebih dari 24 jam
Dari mata terbuka hingga terpejam
Ku memandang dan bercengkrama
Hingga kekaguman ini menjelma

Semakin hari semakin nyata
Walau tak intens namun berkala
Setidaknya dirimu tak lupa
Dengan selalu menjaga komunikasi dari sana

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Dengarkan Dia - Bersenyawa
Budi Doremi - Tolong 

Kamis, 14 Februari 2019

Dahamu (Bagian 2)

              Daha dan Maha masih belum bisa dipertemukan secara nyata. Berkabar pun tak pernah sama sekali semenjak perbincangan singkat dua bulan yang lalu secara singkat yang mengabarkan dengan makna bahwa dirinya ada walau tak selalu ada. Setelah itu Daha kembali menghilang tanpa ada kabar selama hampir tiga bulan. 
                Tepat dua bulan tujuh belas hari semenjak perbicangan terakhir di antara keduanya. Bertepatan pula dihari yang sangat istimewa dengan sangat tiba-tiba dan tak disangka-sangka Daha mengirimkan pesan kepada Maha kembali.
Daha menanyakan kabar Maha.

Assalamualaikum

kabar sehat?


Pesan tersebut muncul di laman ponsel Maha dengan begitu terangnya hingga membuat Maha penasaran dan mencoba melihatnya. Padahal Maha bukanlah tipe orang yang teramat menggilai ponsel khususnya pesan masuk. Sungguh Maha benar-benar tidak menyangka. Percakapan keduanya begitu natural, mengalir apa adanya seperti biasanya dengan tak lupa untuk tetap saling peduli dan mendukung kesibukan masing-masing hingga membuat Maha menjadi tidak menyadari jika di hari itu merupakan hari istimewa yang secara tidak langsung Daha ingin menyampaikan pesan tersuratnya kepada Maha walau tidak dalam bentuk perkataan nan puitis. Pemberian motivasi dan semangatlah yang menjadi kunci diantara mereka. Selain tetap saling mengingat walau hanya terbersit. Iya terbesit saja sudah membuat Maha senang sebab ternyata Daha masih mengingatnya di hari istimewa dimana Daha mengirimkan pesan kepadanya dengan menanyakan kabarnya. 
                Menurut Maha, tak perlu yang muluk-muluk untuk menjadi istimewa. Sederhana namun mengena akan lebih berarti dan terpatri di dalam hati. Dan, yang membuat Daha berbeda dari yang lain adalah Daha selalu memberikan sesuatu yang khas di setiap percakapan keduanya. 

iya sama2, makasih yah
(Senyum pipi memerah)

                Terlalu jujur, ya begitulah katanya. Kedengaran seperti biasa saja. Namun memiliki beribu makna. Teramat berhati-hati dalam berkata. Begitupun sebaliknya, saat ini Maha berusaha bersikap dan merespon dengan tepat. 
                   
Andai kalian tahu,
Sebenarnya Maha tak mengira jika hari itu hari istimewa. Maha baru mengerti setelah percakapan diantara keduanya berakhir. Memahami setiap percakapan keduanya secara seksama dan perlahan. 

                Terima kasih Daha, engkau telah mengingat Maha di hari yang instimewa itu. Mudah-mudahan yang terbaik untuk mu, untuk ku dan kita. Sebab kita tak pernah tahu ke depannya. Setidaknya ini menjadi permulaan yang baik dan mudah-mudahan seterusnya demikian.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Ketika kesetian menjadi barang mahal
Ketika kata maaf terlalu sulit untuk diucap
Ego siapa yang sedang kita beri makan ? Entahlah
Aku marah bukan berarti tak peduli
Aku diam bukan berarti tak memperhatikan
Aku menghilang bukan berarti tak ingin dicari

Sebagian sajak Fiersa Besari 

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hingga kulitmu keriput
Hingga ragaku tak lagi kuat

Hati ini tak kan pernah tua

Kita memang bukan pasangan sempurna
Bukankah Tuhan mengirimmu untuk melengkapiku

Sebagian lirik lagu 
Fiersa Besari - Hidup Kan Baik - Baik Saja 


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 

Bersambung ...

Senin, 11 Februari 2019

Ekor Seekor Lebah

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Lebah ini menyengatku
Benar-benar menyengatku hingga ku yakin 

Bahwa jarum ekornya tlah menancap begitu dalam
Dalam sekejap saja tanpa berpikir panjang

Lebah ini benar-benar tlah membiusku
Dengan tak biasanya seekor lebah
Dirinya mampu mengalihkan perhatianku
Yang tlah lama terpaku diam membisu tak menentu

Sungguh lebah ini tak main-main
Segalanya teramat tak ada celah
Sekejap namun menghujam dalam jiwa
Hingga diri ini tak bisa mengelak dibuatnya


Lebah ini tak segan-segan
Mengubah sebuah pandangan menjadi keyakinan
Keyakinan yang belum pernah dirasa sebelumnya
Benar-benar percaya bahwa dirinya lah sang juara 
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -