Newspaper

Newspaper

Minggu, 18 September 2016

Satu Kota Beda Negara ( Teruntuk Drula ) Part 2

                  Terima kasih telah menjadi kawan selama delapan tahun terakhir ini. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Dulu kita masih sangat belia dan sekarang sudah menginjak dewasa. Segala perhatian, tutur kata dan tindak tandukmu membuatku belajar. Tidak semua orang bisa mengerti watak ku. Tidak semua orang menerima kekuranganku. Tak perlu dengan perkataan secara langsung, dari situlah aku tahu bahwa tindakanlah yang mengartikan segalanya.
                    Semua kebaikan dan kesabaran hatimu sungguh luar biasa dan tak perlu diragukan lagi. Meskipun baru kusadari enam tahun belakangan ini. Dan aku memahami itu. Memahami hasil dari tindakanku yang selalu membuat hatimu kecewa.
                    Maaf, mungkin beribu maaf ku ini tak ada artinya di matamu. Kau memang pantas untuk melakukan itu. Aku salah dan terlambat. Sedangkan waktu terus saja berjalan. Segala tindakan memang perlu difikirkan sebelum melakukannya. Dan smoga itu menjadi awal perubahan ku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
                    Kawan ... tidakah kau tahu. Bahwa kau sangat teristimewa. Ada sesuatu yang membuatmu berbeda dari yang lain dan sulit untuk dibandingkan. Meskipun aku tahu, kekurangan selalu ada. Namun kelebihan mu dapat menutupi itu.
                    "Satu Kota Beda Negara" itulah ungkapan yang bisa aku utarakan saat ini. Dekat atau pun jauh, saat ini aku tak bisa membedakannya. Tak saling bicara, hanya saling mengungkapkan. Tak saling bertemu namun saling merindukan. Dekat... memang dekat. Kita dalam satu kota yang sama namun terasa jauh. Jauh dalam hal menjalin silaturahmi antar teman.
                     Aku yakin kita akan bertemu. Tapi hanya waktulah yang dapat menentukan. Tak ada yang tidak mungkin. Segala sesuatu bisa terjadi. Walau hanya bertemu dalam doa.
                 

@Melodydalampuisi - Panji Ramdana

Dari aku yang selalu mengagumi kebaikan hatimu.

Maaf jika aku harus berkata seperti ini. Kamu, jangan terlalu baik kepadaku. Jika kamu bertanya mengapa, itu karena jika kamu baik padaku dan kemudian suatu saat berhenti. Itu akan membuat segalanya sulit bagiku. Karenanya berbuat sewajarnyalah untuk saat ini. Percaya akan ketetapan- Nya.

Satu pintaku, jagalah selalu kesehatanmu yang sangat berharga bagiku. Mungkin ku tahu apalah arti kekhawatiranku pada dirimu. Karena dirimu adalah salah satu doa yang kupanjatkan selalu.

Terima kasih atas kebaikan yang telah diberikan sejauh ini. Apapun yang terjadi, dirimu adalah sosok pelindung yang sangat luar biasa bagiku. Semoga kebaikan hatimu ini selalu ada dan tidak akan pernah mati.

#120916
                   

Jumat, 09 September 2016

Satu Kota Beda Negara (Prifa dan Drula)

                 "Fafa ...." panggilan itu lah yang saat ini Prifa rindukan. Sejak 3 bulan terakhir, sahabatnya Drula tidak memberikan kabar sama sekali. Padahal mereka ini singgah dalam satu  kota. Bukannya Prifa tidak mau berkunjung, melainkan karena kesibukannya yang saat ini begitu menguras waktu.

                   Prifa dan Drula adalah teman sejak SMA. Mereka sangat akrab dan tidak dapat terpisahkan. Prifa sosok wanita berkacamata berambut pendek dan selalu memakai jam tangan di sebelah kiri. Sedangkan Drula adalah sosok pria tambun , berkacamata dengan rambut kribo di kepalanya.

                   Prifa memang orang yang sangat lugas dalam mengutarakan pendapat maupun perasaannya. Sedangkan Drula cenderung pendiam dan terlalu fokus dengan masa depannya hingga ia lupa dengan keadaan di sekelilingnya. Tak banyak teman, cukup satu saja menurut Drula tak masalah.

                   Di kamis pagi, ketika fajar tiba menegur embun untuk menggoreskan setetes air di dedaunan. Prifa duduk termenung di sudut taman yang begitu cantik berhiaskan bunga - bunga mawar dan kamboja. Tak terasa di pipi kanannya terlihat air mata jatuh bercucuran perlahan. Sesekali ia mengusapnya agar tidak ada seorang pun yang tahu.

                   Teringat sosok Drula yang selalu menemaninya di taman sambil menampung segala keluh kesah yang ada pada diri Prifa. Namun kejadian itu tak mungkin terjadi saat ini. Drula telah berkomitmen untuk serius pada sekolahnya. Ia tidak akan mengganggu dan tidak mau diganggu dengan urusan yang lainnya.

                   Sejak kecil hingga dewasa, Drula selalu menjadi juara kelas. Prestasi yang ditorehkannya begitu banyak hingga sulit untuk menyebutkannya. Keinginan bersekolah di tempat favorit pun dapat terwujud sesuai dengan keinginannya. Tak salah jika ia sangat berambisi untuk kesuksesannya ke depan.

                    Drula sosok yang sangat sangan fokus. Ia dapat melupakan segalanya demi meraih kesuksesannya kelak. Baik itu teman maupun sahabatnya. Drula bisa hati menyepelekan urusan sosialnya. Pertemuan kecil hingga acara penting pun dapat ia lupakan tanpa memperhatikan perasaan orang lain.

                    Inilah watak Drula yang membuat Prifa bersedih. Ia tidak mau diganggu dengan alasan apapun. Padahal menurut Prifa, kesuksesan tak hanya datang dari prestasi akademik melainkan bersosialisasi, berkomunikasi dengan orang lain juga dapat membuat kita sukses. Kita akan mudah dalam mendapat relasi dan kita pasti butuh orang lain. Sepintar-pintarnya IQ kita jika tidak diimbangi juga dengan EQ, SQ maka juga tidak baik.
             
                    Satu Kota Beda Negara ..... Iya benar, itulah yang dirasakan Prifa saat ini. Prifa dan Drula singgah dalam satu kota namun serasa beda negara. Tak ada komunikasi yang ada hanyalah berdiam diri.

                    Bertegur sapa, itulah yang terpenting dari hubungan ini. Tak perlu hingga berjam-jam. Cukup satu menit saja. Setidaknya Prifa dapat mengetahui kabar dari temannya ini. Berdiam diri tidak akan membahagiakan hati. Sesekali melakukan kegiatan yang sesuai hobi namun tetap fokus pada tujuan pasti.

                    Seringkali Prifa dalam hati bertanya-tanya. Apakah Drula tidak bosan dengan aktivitas yang ia lalui setiap hari. Tidak butuhkah refreshing ? Refreshing itu penting, oleh karena itu warna tanggal di hari minggu selalu merah. Hal ini ditujukan agar kita bebas mengekspresikan diri kita tanpa adanya beban apapun.

                    Ketahuilah Drula, pahamilah dan dengarkanlah pendapat dari temanmu ini. Aku berkata seperti ini hanya karena aku peduli kepadamu. Semoga saja, dengan semakin dewasanya dirimu semakin luas pula pemikiranmu.