"Fafa ...." panggilan itu lah yang saat ini Prifa rindukan. Sejak 3 bulan terakhir, sahabatnya Drula tidak memberikan kabar sama sekali. Padahal mereka ini singgah dalam satu kota. Bukannya Prifa tidak mau berkunjung, melainkan karena kesibukannya yang saat ini begitu menguras waktu.
Prifa dan Drula adalah teman sejak SMA. Mereka sangat akrab dan tidak dapat terpisahkan. Prifa sosok wanita berkacamata berambut pendek dan selalu memakai jam tangan di sebelah kiri. Sedangkan Drula adalah sosok pria tambun , berkacamata dengan rambut kribo di kepalanya.
Prifa memang orang yang sangat lugas dalam mengutarakan pendapat maupun perasaannya. Sedangkan Drula cenderung pendiam dan terlalu fokus dengan masa depannya hingga ia lupa dengan keadaan di sekelilingnya. Tak banyak teman, cukup satu saja menurut Drula tak masalah.
Di kamis pagi, ketika fajar tiba menegur embun untuk menggoreskan setetes air di dedaunan. Prifa duduk termenung di sudut taman yang begitu cantik berhiaskan bunga - bunga mawar dan kamboja. Tak terasa di pipi kanannya terlihat air mata jatuh bercucuran perlahan. Sesekali ia mengusapnya agar tidak ada seorang pun yang tahu.
Teringat sosok Drula yang selalu menemaninya di taman sambil menampung segala keluh kesah yang ada pada diri Prifa. Namun kejadian itu tak mungkin terjadi saat ini. Drula telah berkomitmen untuk serius pada sekolahnya. Ia tidak akan mengganggu dan tidak mau diganggu dengan urusan yang lainnya.
Sejak kecil hingga dewasa, Drula selalu menjadi juara kelas. Prestasi yang ditorehkannya begitu banyak hingga sulit untuk menyebutkannya. Keinginan bersekolah di tempat favorit pun dapat terwujud sesuai dengan keinginannya. Tak salah jika ia sangat berambisi untuk kesuksesannya ke depan.
Drula sosok yang sangat sangan fokus. Ia dapat melupakan segalanya demi meraih kesuksesannya kelak. Baik itu teman maupun sahabatnya. Drula bisa hati menyepelekan urusan sosialnya. Pertemuan kecil hingga acara penting pun dapat ia lupakan tanpa memperhatikan perasaan orang lain.
Inilah watak Drula yang membuat Prifa bersedih. Ia tidak mau diganggu dengan alasan apapun. Padahal menurut Prifa, kesuksesan tak hanya datang dari prestasi akademik melainkan bersosialisasi, berkomunikasi dengan orang lain juga dapat membuat kita sukses. Kita akan mudah dalam mendapat relasi dan kita pasti butuh orang lain. Sepintar-pintarnya IQ kita jika tidak diimbangi juga dengan EQ, SQ maka juga tidak baik.
Satu Kota Beda Negara ..... Iya benar, itulah yang dirasakan Prifa saat ini. Prifa dan Drula singgah dalam satu kota namun serasa beda negara. Tak ada komunikasi yang ada hanyalah berdiam diri.
Bertegur sapa, itulah yang terpenting dari hubungan ini. Tak perlu hingga berjam-jam. Cukup satu menit saja. Setidaknya Prifa dapat mengetahui kabar dari temannya ini. Berdiam diri tidak akan membahagiakan hati. Sesekali melakukan kegiatan yang sesuai hobi namun tetap fokus pada tujuan pasti.
Seringkali Prifa dalam hati bertanya-tanya. Apakah Drula tidak bosan dengan aktivitas yang ia lalui setiap hari. Tidak butuhkah refreshing ? Refreshing itu penting, oleh karena itu warna tanggal di hari minggu selalu merah. Hal ini ditujukan agar kita bebas mengekspresikan diri kita tanpa adanya beban apapun.
Ketahuilah Drula, pahamilah dan dengarkanlah pendapat dari temanmu ini. Aku berkata seperti ini hanya karena aku peduli kepadamu. Semoga saja, dengan semakin dewasanya dirimu semakin luas pula pemikiranmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar