Newspaper

Newspaper

Senin, 28 Mei 2018

Ku mengerti, mengapa ada dirimu Taraxacum officinale ?

             Seketika saat ini ku hanya ingin meniup seluruh bagian Taraxacum officinale . Tak hanya yang telah mengering berwarna putih saja seperti biasanya dengan mengikuti semilir angin yang sedang hinggap di raut ini. Aku ingin meniupnya ke seluruh penjuru mata angin. Perlahan tapi pasti. Hanya itu. Iya, hanya itu yang kuinginkan saat ini. Aku hanya ingin mengetahui sambutan dari benih khas yang menyerupai payung terjun berbulu. Apakah salah satu diantara mereka ada yang tetap berada pada batang halus berongga atau kah sebaliknya ? Setelah sekian lama mereka bertumbuh kembang disana, dari balita "kuntum kuning cerah" hingga lanjut usia "benih putih". Memang indah panorama disekitar sana dan tentunya suasana yang baru akan menggugah semangat baru.
              Setidaknya diri ini telah mengerti dan mencoba memahami. Baik batang halus berongga maupun benih putih mereka sama-sama memiliki persepsi dan pilihan. Apakah diri ini
menjadi batang halus berongga atau benih putih ? Bukan ... bukan itu yang diri ini inginkan. Akar ? Daun ? Akar maupun daun ? Keduanya ? Silakan ... atas dasar apa ? Kekerabatan antara akar, daun, dan batang jauh lebih erat dibandingkan dengan benih putih. Mengapa ? Ya begitulah ...
               Menginzinkanmu untuk jujur dengan memilih apa yang sesuai dengan bisikan yang ada didasar dan lubuk hati. Bebaslah ... karena ku tak akan mencegahmu. Sungguh ... tak akan. Sebab ku telah mengerti jawaban dari apa yang telah aku lakukan dengan meniup seluruh bagian Taraxacum officinale. Sejenak ... namun terasa begitu lapang dan tanpa ada beban.
                Terima kasih Taraxacum officinale . Engkau telah memberikan jawaban dari apa yang seringkali terbersit dalam benakku. Tepat ... benar-benar tepat. Saat ini ku hanya ingin menjadi mahkota bunga yang akan membisikan kuncup untuk mekar saat musim semi datang membawa berita aktual yang ku tunggu-tunggu sejak lama.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sejenak saja. Ya, sejenak saja. Dan dalam sejenak itu mendadak semuanya menjadi ada, terasa ada, menjadi benar-benar ada. Ada aku, ada engkau. Ada ? Benar-benar ada tanpa harus bertemu.

Kutipan - Novel Yang Fana adalah Waktu (Trilogi Hujan Bulan Juni)
Pengarang : Sapardi Djoko Damono

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Sejenak kupejamkan kedua mata
Ku hanya ingin memahami setiap helaan napas ini
Yang selalu seirama dengan maksud hati
Meskipun sesekali sekilas bayangan hadir lalu pergi
Namun keyakinan diri ini selalu kembali
Atas apa yang telah tercurahkan dalam sanubari
Itulah alasan
Mengapa helaan napas,
Selalu menjadi benih
Dari merekahnya mahkota bunga
Di ujung hari

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Selaksa goresan tinta yang kali ini selalu nampak pada secarik kertas
Dimana setiap lekukkannya memiliki filosofi plural
Apakah hanya atau bermakna ?

 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Laksana mentari yang seolah acap kali menyertai dikala diri ini melanglang kesana kemari
Namun nyatanya justru bersemanyam dibalik awan pagi

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
VA - Terbenar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar