Daha ...
Jujur, semakin hari ku semakin ku ingin mengenal dirimu lebih jauh
Bulan April ini merupakan bulan yang membuat Maha bimbang. Sebab Daha semakin intens untuk berusaha bercengkrama dengan dirinya. Meskipun hanya melalui pesan singkat. Setiap hari di sepertiga malam mereka berdua saling bercengkrama, berdiskusi, dan berkenalan lebih mendalam satu sama lain. Saat ini topik percakapan mereka sudah tidak seserius sebelumnya. Namun lebih santai dan tak jarang diselingi lelucon. Jujur, sejak Daha hadir dalam hidup Maha dirinya memberikan pengaruh positif yang membuat Maha menjadi pribadi yang lebih baik.
Daha menghargai Maha. Begitupun sebaliknya. Di awal April ini, Daha sangat mengerti kesibukan Maha saat ini. Daha tak mengganggu sama sekali. Dirinya mengerti kapan harus mengirim pesan dan menjedanya.
Hari berganti demi hari
Tepat pada tanggal 16 pukul 19.06 Daha menelpon Maha untuk pertama kalinya. Maha sangat kaget bukan kepalang. Dengan hati yang tak menentu, Daha mengangkat dan berkata :
Halo, Assalamualaikum
Beberapa detik, tak ada jawaban dari Daha. Kemudian Daha menanggapi dengan memanggil nama Maha. Daha menanyakan :
Lagi dimana ?
Suara mu medok, lucu ...
Besok pilih siapa ? rahasia ya ...
Padahal bebas rahasia. Seharusnya ......
Sampeyan lagi posisi dimana ?
Hati - hati ya
Setelah telpon tersebut. Selama 3 hari mereka berdua tak saling berbincang. Entah kenapa alasannya. Maha sebenarnya tidak pernah memulai percakapan di awal. Karena Maha paham dengan kesibukan Daha yang jadwalnya tak menentu. Oleh karena itu, Maha yang menunggu pesan singkat yang selalu diawali Daha dan Maha selalu mengusahakan sebisa mungkin untuk meluangkan waktunya. Namun entah mengapa kali ini Maha begitu rindu kepada Daha. Mungkin karena telah terbiasa, sehingga saat hilang entah kemana terasa ada yang berbeda.
Maha memulai percakapan tersebut, namun sayang waktunya kurang tepat. Sempat menyesal, namun apa boleh dibuat. Pesan tersebut akhirnya ditarik kembali oleh Maha.
Percakapan kembali berlangsung melalui pesan singkat. Kali ini kembali Daha yang memulainya. Tepatnya pukul 23.55 saat alarm Maha berbunyi hingga membuat Maha terbangun dan mengecek ponselnya. Singkat perbincangan, lalu Daha menelpon Maha kembali dimana kali lebih lama yaitu sekitar 30 menit. Lucunya, Daha meminta Maha bercerita segalanya, apapun itu kepada Daha. Daha hanya mendengarkan saja. Ia mempersilahkan dengan senang hati. Maha "speechless" tak tau mengerti mau bercerita apa. Telepon tersebut lebih banyak keheningan daripada perbincangan.
Maha mengerti, inilah yang membut Maha kagum pada Daha. Daha begitu memahami jika Maha rindu kepadanya. Namun disisi lain saat itu Daha tengah bekerja. Oleh karena itu, dirinya mempersilakan Maha untuk bercerita apa saja. Setidaknya Daha tak mengecewekan Maha dengan menolak untuk saling mengirim pesan singkat.
Suara keyboard komputer berbunyi cepat mengiringi telepon antara Daha dan Maha. Suara itu menjadi saksi bisu bahwa Daha teramat baik dan sabar kepada Maha. Walau pada akhirnya terganggu dengan sinyal yang kurang baik sehingga suara Maha tak terdengar oleh Daha.
Daha selalu memiliki "data statistik" tentang Maha. Salah satu yang terbaru ialah Maha selalu memasang alarm sekitar pukul sekian. Benar ... tepat di pukul tersebut, Daha mengirimkan pesan ke Maha.
Kebangun?
Sayangnya di hari itu, Maha memiliki jadwal kuliah pagi. Sehingga Maha telat membacanya. Yaitu pada saat pukul 03.00. Maha membalasnya, namun Daha hanya menjawab
Ya
Sejak saat itu hingga saat ini, Daha dan Maha belum lagi berbincang melalui pesan singkat kembali. Entah mengapa ?
Daha pasti sibuk ( gumam Maha )
Aku akan menunggu ...
Maha tak mau berpikiran negatif. Hal tersebut akan membuat Maha tak menentu dan merusak hari-harinya. Ia ingin tetap fokus meraih cita-citanya. Semuanya Maha serahkan kepada Daha. Maha sudah berusaha untuk bersikap jujur dan apa adanya tanpa ada yang ditutupi.
Saat ini Maha hanya menunggu kapan mereka berdua akan dipertemukan. Karena tahap yang mereka jalani perlahan - lahan dan mudah - mudahan pasti. Dimulai dari pesan singkat dikarenakan Daha dan Maha tidak berada dalam satu kota yang sama, lalu menelpon, dan semoga pada akhirnya saling bertatap muka suatu saat nanti.
Pertemuan merupakan klimaks dari proses yang dijalani sejauh ini. Sebab dengan pertemuan Daha dan Maha akan mengerti gesture , tatapan, responsivitas secara langsung dan nyata. Dengan begitu diantara keduanya akan dapat menyimpulkan tahap dan keputusan selanjutnya yang dipilih. Meski percakapan secara tulisan dan pendengaran sudah dilalui. Namun pertemuan jauh lebih penting dari keduanya dimana kespontanan diantara keduanya tidak dapat dibohongi-bohongi, lugas jelas tersuguhkan.
Aamiin ... (pipi memerah)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Waktu yang Salah - Last Chapter (Mosen Films)
Kemarin aku terlalu fokus terhadap indahnya senja
Hingga sekarang
Aku baru sadar
Bahwa sudah ada pagi yang siapa menyambut dengan keindahannya
Apakah kamu hadir sebagai pagi itu ?
Pagi yang dipenuhi dengan kabut
Kabut
Yang membuat jarak pandangku hanya sebatas kamu
Rasa yang hadir begitu hebat
Nyaman yang mengalir begitu cepat
Luka lama yang mulai tertutup rapat
Apakah kamu hadir sebagai pengganti yang tepat ?
Halu yang mulai merasuk pikiran
Indah di awal hilang kemudian
aku tak mau kamu hadir sebagai pelangi
Indah memudar lalu hilang
Sakit untuk bertahan
Atau pergi untuk merelakan
Dan aku memilih untuk merelakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar