Air lautlah yang melahirkan Air Hujan. Bagaikan ibu dengan seorang anak. Namun paras anak terkadang tak seluruhnya sama dengan ibunya. Seperti halnya Air Laut dan Air Hujan. Meskipun Air Hujan merupakan bagian dari Air Laut, namun karakter diantara keduanya sangat bertolak belakang. Air hujan teramat tawar kepada semesta, sedangkan air laut teramat asin kepada semesta. Kalian berbeda namun saling melengkapi, mengasihi, dan selalu memberi.
Air laut menguap karena panas matahari. Kemudian uap tersebut berubah menjadi sebuah embun. Embun yang berasal dari titik-titik air kecil memadat menjadi awan. Awan pada awalnya berukuran kecil lalu besar karena adanya hembusan angin. Awan berukuran besar menampung titik air yang besar dan banyak hingga akhirnya titik air jatuh dan turun ke bumi.
Mengapa bertolak belakang ? Sebab panas matahari hanya bisa menguapkan air laut saja tanpa menguapkan garam mineral yang menjadi alasan mendasar air laut begitu asin responnya kepada semesta. Sedangkan air hujan begitu tawar kepada semesta.
Air Hujan ... Air laut ... inilah indahnya perbedaan. Walau kalian berasal dari sumber yang sama. Namun tidak semua hal yang berasal dari satu kesatuan akan sama di keseluruhan sisi. Menghargai dan memahami perbedaan yang ada adalah jalan keluarnya. Tanpa perlu menghakimi mana yang baik dan buruk. Sebab Sang Pencipta teramat lihai memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Sang Pencipta di atas segala-galanya. Tak ada tandingannya dan satu lagi, ESA atau tiada duanya.
Seorang bayi kembar yang lahir dari sang ibu saja memiliki karakter dan kepribadian yang sangat berbeda meski paras mereka identik hingga susah untuk dibedakan. Saudara dalam satu ibu pun terkadang juga demikian pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar