Di sepersekian bagian bumi inilah kita berpijak dan menetap. Menapak, mencoba berdiri, berjalan, lalu berlali. Berusaha menemukan alasan apa, dimana, mengapa, siapa, kapan, bagaimana ? Siapa jati diri ini sebenarnya.
Manusia zaman dahulu dengan sangat sederhana teramat kritis dengan segala hal yang berada disekitar dan disekeliling mereka. Selalu bertanya-tanya (filsafat) dan berusaha mencari jawaban yang tepat.
Mereka lebih menghargai, menyayangi, dan melindungi segala bentuk kebesaran Tuhan. Manusia zaman dulu berkeyakinan bahwa apa yang ada di sekitar mereka salah satunya alam merupakan bentuk cerita-cerita Tuhan yang dipersembahkan untuk umatnya.
Kali ini berkaitan dengan cerita Konstelasi. Mungkin samar terdengar, namun dalam untuk dipaparkan. Baiklah ... sebut saja Rasi, Rasi bintang.
Rasi bintang merupakan kumpulan dari bintang-bintang yang membentuk konfigurasi tertentu teramat cantik. Manusia zaman dahulu sangat meyakini jika rasi bintang yang dipersembahkan oleh Tuhan memiliki tak hingga arti yang sangat berguna dalam kehidupan dimuka bumi ini. Kepercayaan mereka dan fakta adanya jika rasi bintang membantu mereka dalam bercocok tanam, petunjuk arah mata angin, pergantian musim, dan masih berlimpah makna lagi.
Satu persatu rasi bintang memilih makna yang berbeda-beda. Manusia zaman dahulu membaca alam dengan penuh pendalaman. Manusia zaman dahulu lebih peka dengan cerita-cerita yang Tuhan berikan secara tersirat lewat alam.
Secara cuma-cuma disuguhkan-Nya. Secara berkala dan intens ditunjukan-Nya. Sangat berarti jika mau memaknai setiap cerita - cerita salah satunya rasi. Tak perlu muluk-muluk mencari. Mereka selalu menemani di segala sisi. Tinggal diri ini mau mempelajari atau menghindari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar