Newspaper

Newspaper

Senin, 01 Juli 2013

Wingka dan Heika

       
Di suatu kota terdapat seorang anak perempuan bernama Heika. Heika adalah seorang anak yang ramah, baik dan mudah diajak ngobrol dengan orang lain. Heika juga senang sekali membantu orang yang kesusahan. Tak salah jika banyak anak kecil yang menyayanginya karena kemurahan hatinya itu.
         Karena melihat Heika yang baik, ramah dan dicintai teman-teman dan orang lain disekitarnya. Terdapat seorang pria bernama Wingka yang jatuh hati kepadanya. Sayangnya Wingka malu untuk berkenalan kepada Heika karena dia hanya seorang pengamen. Dia juga sadar jika Heika pasti akan malu jika berteman dengannya.
         Pada saat Wingka mengamen di jalan. Ia melihat Heika pulang dari pasar. Wingka sesekali melihat wajah Heika yang ramah itu dan di hatinya berdebar kencang saat ia merasa ingin berkenalan tapi ada daya itu tidak mungkin. Sedangkan sebenarnya Heika juga tahu jika ada seorang pria yang selalu memandanginya setiap mereka bertemu.
         Heika benar-benar anak yang baik. Heika lebih senang jika Wingka itu jujur kepadanya. Bukan malah sembunyi-sembunyi yang membuat Heika sedikit takut dengannya. Sebaliknya, Heika juga takut jika Wingka    memiliki niat buruk kepadanya akibat sikapnya yang selalu menatapnya setiap mereka bertemu.
         Hingga akhirnya saat Wingka sudah tidak kuasa lagi menahan rasa sukanya itu. Wingka mendekati Heika saat mereka bertemu di Stasiun Kota dimana Heika akan pulang ke rumahnya. Wingka bertanya siapa nama Heika dan Heika pun juga bertanya sebaliknya. Hingga akhirnya mereka duduk di ruang tunggu kereta sambil bercakap-cakap dengan nyamannya.
       
Namun waktu tidak dapat dihentikan. Kereta yang akan dinaiki Heika datang dan percakapan mereka seketika harus diakhiri. Meskipun berakhir, tapi mereka tetap berhubungan. Wingka yang akhirnya berteman dengan Heika mengajak Heika untuk bertemu di suatu tempat dimana tempat itu pemandangannya sangat indah sekali. 
         
Heika di kereta

         Sedangkan Heika saat di dalam kereta berpamitan dengan Wingka sambil melambaikan tangannya ke arah teman barunya tersebut. Heika ternyata salah menilai Wingka yang bekerja menjadi seorang pengamen. Ternyata dia orangnya baik dan enak diajak ngobrol. Heika juga mengakui, meskipun dia seorang pengamen tapi ia memiliki tata krama.

Waktu yang dinantipun tiba
    
         Hari ini, adalah hari dimana Wingka akan bertemu Heika di tempat yang sudah ditentukannya. Tanpa berpikir panjang. Wingka berdandan dan berpakaian rapi agar terlihat berbeda di hadapan Heika. Dia memakai baju putih dengan sandal jepit kesukaannya. Sedangkan Heika dengan anggunnya memakai rok selutut dengan indahnya.
          Disaat mereka bertemu. Wingka sangat terkejut melihat penampilan Heika yang menurutnya cantik sekali. Heika pun juga senang dengan penampilan Wingka yang apa adanya. Sampai saat dimana Wingka mengajak Heika di suatu tebing yang dibaliknya terdapat pemandangan yang indah sekali. Ia mengajak Heika duduk bersamanya sambil berbicang-bincang. 
           Namun sesuatu hal terjadi. Di tengah-tengah mereka bercerita. Tiba-tiba beberapa darah menetes dari hidung Wingka dan jatuh di lengan baju putihnya tersebut. Seketika Heika berteriak dan menangis melihat temannya itu kesakitan. Namun Wingka hanya tersenyum kepada Heika dan mengelap darah tersebut dan berkata kepada Heika "Kamu tidak usah khawatir, Heika. Aku tidak kenapa-kenapa." Heika pun tambah bersedih dengan ucapan Wingka tersebut. Ia mengajak Wingka untuk pulang tapi Wingka tidak mau.

           " Heika ....kamu memang orang yang baik. Dan aku hanya seorang pengamen yang sakit-sakitan. Aku tidak pantas menjadi temanmu. Apalagi menjadi seseorang yang mencintaimu" kata Wingka.
            Heika pun menjawab " Tidak Wingka ... meskipun aku baru saja mengenalmu, tapi aku tahu jika kamu orang yang pantas jadi temanku. Dan aku tidak akan meninggalkanmu sendirian disini". 

            " Terima kasih Heika.... kau memang orang yang baik dan mulia " Sahut Wingka.

       
          Seketika Heika merangkul Wingka dan tersenyum kepadanya. Lalu dia mencoba membantu Wingka untuk berdiri dan mengantarnya pulang ke rumahnya. Karena Wingka takut jika Heika tahu bahwa rumahnya jelek. Maka ia meminta agar Heika pulang saja dan Wingka pulang sendiri ke rumahnya. Namun Heika tetap memaksa untuk mengantarkan Wingka ke rumahnya. 
          Ternyata Heika tidak terkejut setelah melihat rumah Wingka yang jelek itu. Ia tidak menggubris apapun yang ada di dalamnya. Yang terpenting, Wingka dapat sembuh dan segera istirahat di rumahnya. Ibu Wingka pun mengucapkan terima kasih kepada Heika. Dan setelah itu Heika pun berpamitan kepada Wingka dan Ibunya untuk segera pulang.

Hari berganti demi hari

           Ketika Wingka bertemu kembali dengan Heika dan teman-temannya di Stasiun Kota. Wingka malah kabur dan takut jika Heika tahu dia ada disana. Wingka tidak mau jika Heika akan dijauhi temannya karena berteman dengan seorang pengamen. Namun Heika malah mengejar Wingka dan menarik tangannya tanpa menggubris teman-temannya. Seketika langkah Wingka pun terhenti dan mencoba menatap Heika. Heika hanya tersenyum kepadanya dan berkata " Jangan menjauhiku .... aku sama sepertimu. Aku hanya manusia biasa dan kau pun juga, Wingka" kata Heika muram.
           Disaat itulah Wingka menangis dan tanpa pikir panjang dia  memeluk Heika di depan pintu gerbang Stasiun Kota. Heika awalnya terkejut dengan sikap Wingka. Namun akhirnya Heika berbalik memeluk Wingka dengan harapan dia cepat tenang.
           Setelah itu, Heika mengajak Wingka untuk menenangkan dirinya dengan duduk bersama di bangku yang tersedia di stasiun. Heika mencoba agar Wingka mau menjelaskan sikapnya tadi. Wingka akhirnya bercerita dan hasilnya mereka berjanji akan menerima keadaan mereka satu sama lain.
           Heika akan selalu menutupi kekurangan Wingka. Dan Wingkapun juga sebaliknya. Karena menurut mereka, kelebihan itu mudah untuk di terima. Namun kekurangan belum tentu diterima semudah dengan kelebihan. Dan akhirnya mereka pun berteman selamanya.
           Sedangkan Wingka akhirnya tidak memikirkan percintaannya dulu. Apabila Heika nanti akan menjadi kekasihnya. Maka Allah tidak akan memisahkan mereka berdua. Tapi akan mendekatkan mereka lebih dari sekedar teman seperti saat ini.

#YovieAndNunoMengejarMimpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar