Newspaper

Newspaper

Selasa, 29 Oktober 2013

Weka Di Pulau Menakjubkan

               Sesampainya di Pulau Jawa ... Pulau yang terkenal dengan keramaian penduduknya, ramah (katanya) dan tentu pulau yang selalu di idam-idamkan pergi kesana oleh kebanyakan orang yang tinggal di pedesaan ataupun luar pulau Jawa. Termasuk Weka yang tertegun melihat pulau Jawa yang sekarang ia pijaki. Dia tidak menyangka, jika pulau bisa disulap seperti miniatur mainan adeknya yang ada di rumah. Weka kira itu hanya impian belaka. Ternyata tidak, itu nyata dan sekarang ia sedang menatapnya. Banyak mobil berbaris, truk dan lain sebagainya. Menurut Weka yang sama hanyalah langit, awan, matahari dan cahaya yang selalu setia menemani perjalanannya kali ini.
               Pulau Jawa memiliki banyak kota/kabupaten. Dan yang sekarang sedang Weka pijaki adalah kota Yogjakarta. Menurutnya kota Jogja sungguh kota yang damai, oleh karena itu dia memilih untuk sekolah di Jogja. Adat istiadat disana masih terpakai sampai sekarang, orang-orangnya sopan dan masih terdapat pantai yang bisa ia jumpai setiap saat untuk sekedar mengingat pulau aslinya yang sangat ia rindukan. Weka disana tinggal di rumah saudaranya. Rumah tersebut tepat di belakang Keraton Yogjakarta. Mengapa demikian ?? Karena saudaranya tersebut menjadi "Abdi Dalem" disana. Weka merasa senang sekali, ia dapat mengenal Jogja lebih dalam lagi. Ia pun mulai tertarik dengan Bahasa Jawa halus yang merupakan "pakem" disana. Beberapa bahasa pun ia pakai seperti "Monggo, Nyuwun Sewu, Ngapunten" .
                Beberapa hari di Jogja membuat Weka menjadi bisa berbahasa Jawa. Dia menjadi semakin bangga dengan Indonesia. Teman-temannya pun juga menghormatinya meskipun Weka bukan asli orang Jawa. Wajah dan logatnya pun berbeda. Meksipun begitu, Weka tetap berusaha agar ia tidak merasa asing dengan teman-temannya. Setiap sore dia selalu bersepeda mengelilingi kota sambil mencoba berbicang dengan orang asli Jogja. Sedikit demi sedikit ia mulai mengenal dan menjadi tertarik untuk tinggal di Jogja.
                Keesokan harinya saat Weka kuliah, dia dan teman-temannya memutuskan untuk mencari bahan tugas mereka di pasar Bringharjo. Disana mereka akan bertanya-tanya dengan pedagang dan pembeli disana tentang cara dan bagaimana keadaan pasar tersebut. Dan karena Weka terlalu asyik dengan tugasnya tersebut, ia sampai berpencar dengan teman-temannya saat dia sedang berbicang dengan seorang "bakul bakpia" . Weka pun mulai bingung, saking bingungnya ia sampai menabrak seorang laki-laki berpakaian jawa dengan memakai beskap dan blangkon. Weka pun meminta maaf kepada pria tersebut dan akhirnya mereka saling menanyakan asal-usul mereka. Ternyata pria tersebut bernama Guno. Guno asli Jogja, dia tinggal tak jauh dari rumah Weka dan Guno lima tahun lebih tua dari Weka. Dan yang lebih mengejutkan lagi jurusan mereka sama. Jadi Weka bisa menanyakan tugasnya apabila ia belum mengerti. Guno akan siap membantu kapanpun Weka perlu bantuan .
                 Persahabatan mereka berlangsung lama sekali. Meskipun hampir setiap saat mereka bertemu, tapi itu tidak secara langsung. Semua mereka lalui dengan penuh kebahagiaan. Weka pun senang bisa memiliki sahabat seperti Guno, dia selalu menolong Weka saat ia perlu bantuan. Entah itu dalam materi kuliah ataupun dalam hal lainnya. Contohnya seperti memasak. Meskipun Guno seorang laki-laki, tapi ia pandai memasak, beberapa kali Weka meminta Guno untuk mengajarinya. Dan alhamdulillah sekarang Weka dapat memasak masakan Jawa. Mereka berdua memiliki impian yang sama yaitu dapat mendirikan restaurant sendiri yang bisa membantu keluarga mereka. Terkadang mereka sering membayangkan, akan membuat menu apa di restaurant mereka dan dengan model apa restaurant itu mereka buat.
                Saat hari libur, Weka diajak Guno bersepeda bersama mengelilingi Joga. Namun tiba-tiba ban sepeda Weka terkena paku dan akhirnya kempes. Guno akhirnya membonceng Wena dan melanjutkan jalan-jalan mereka. Disana mereka berhenti di Malioboro. Guno mengajak Weka untuk melukis wajah mereka berdua di selembar kertas. Weka pun menyetujuinya. Disana mereka saling bercanda dan tertawa saat melihat tahapan-tahapan wajah mereka dilukis. Dan saat lukisan tersebut selesai dilukis, lukisan tersebut dibawa oleh Weka dan Guno yang masing-masing membawa satu lembar lukisan dengan lukisan yang sama.
                Sesampainya di rumah, Weka mengambil lukisan tersebut dan meletakannya kedalam pigura dan dipajanglah lukisan tersebut di kamarnya. Begitu pula dengan Guno. Guno sangat senang bisa mendapatkan lukisan tersebut. Karena baru kali ini mereka bisa bersepeda bersama dan meluangkan waktu mereka berdua untuk saling bercerita bersama. Guno yang seorang pekerja dan Wena seorang mahaasiswi pastinya tidak akan bertemu setiap saat.
                 Liburan pun tiba. Weka memutuskan untuk berlibur ke pulau Moyo tempat tinggalnya.

Dan.... To be continue :)

Wena Anak Pulau Moyo

           Hujan angin melewati pesisir pantai yang sejuk dikerumuni banyak pepohonan rindang yang amat menenangkan hati para pelancong semuanya. Disana terlihat seorang gadis cantik berkepang satu duduk di bawah pohon dengan membawa sebuah kertas putih berukuran A4 dan sebuah pena yang sedang dipegangnya. Terlihat seluruh pemandangan bak dunia yang tak ingin menyingkirkannya dan menjauhkannya dari pesona alam yang menunjukan sisi baiknya kepadanya. Gadis itu menikmati tiupan angin semilir, desiran ombak dan suasana yang hanya terdapat di pulau tersebut. Pulau yang penuh dengan kisah indah yang tidak akan pernah ia lupakan. Pulau yang selalu damai dan makmur dan tak ada yang menandingi keindahan pemandangannya. Gadis itu melukiskan seluruh perasaannya di dalam sebuah kertas tersebut sambil tersenyum simpul di depan pemadangan yang sedang tersenyum itu. Gadis itu membayangkan.. Apakah dia dapat menemukan hal tersebut di tempat lain ?? Jawabnya tidak mungkin. Karena seluruh kisahnya sudah  tertampung di pulau ini. Pulau kecil dengan sebagian penghuni yang ramah dengan adat yang terjaga sampai sekarang. Ya .... Pulau ini bernama Pulau Moyo. Hmm... Rasanya tidak akan pernah tergantikan.
             Dan disaat semuanya telah dinikmati, Gadis yang bernama Wena ini tiba-tiba murung dan meletakan penanya di atas pasir putih pantai tersebut. Dia teringat, bahwa besok dia harus pergi dari pulau itu karena harus melanjutkan sekolahnya di pulau Jawa. Rasanya tidak ingin melewatkan sedetikpun hari-hari di pulau Moyo ini. Tapi semua ini demi masa depan Wena dan keluargannya. Ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Wena ingin membuktikan, bahwa dia bisa dan akan mewujudkan impian keluarganya yang terpendam. Keinginan sudah lama diimpikan oleh orang tuanya. Dapat menaikan haji kedua orang tuanya ke tanah Suci. Sungguh mulia sekali impian seorang Wena ini.
           
To Be Continue ....
#BeautifulGirl-CB

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kemurungan Sike

Di kala malam menutupi awan biru yang menyejukan hati. Terdapat sebuah makna yang sangat berarti di kala itu. Seorang remaja bernama Sike duduk di balkon kamarnya sambil menatap heningnya malam kala itu. Sambil ditemani secangkir teh hangat dan snack dia membayangkan sosok teman misteriusnya yang saat ini tidak akan lagi bersamanya. Di tatapnya bulan di langit, dibenaknya bertanya "Apakah dia disana juga sama sepertiku, merindukannya yang dulu selalu terlihat setiap pagi hingga sore hari" Seketika Sike mengehela napas ... Itu hanya kebimbangannya saja. Dia belum bisa mempercayai teman misteriusnya itu untuk saat ini, apakah dia dapat bertahan dengan kisah yang sudah ditentukan oleh Allah ini. Jawabnya adalah waktu ... karena hanya dengan waktu dia dapat mengerti jawaban dari semua kegundahannya. Apakah dia akan kembali atau pergi meninggalkannya. 
Ya ... benar, ini baru permulaan dari kisah Allah itu, perjalanan Sike masih panjang. Dan sekarang dia harus fokus untuk kehidupannya saat ini dan yang akan datang. Sike hanya bisa berdoa .... Bahwa dia berusaha untuk bertahan saat ini dan seterusnya untuk semua yang dia saat ini meskipun menurutnya, Sike sudah terlambat untuk meraih hal tersebut.
Teman misterius ?? Mengapa disebut teman misterius ?? Dia adalah teman yang selalu mengerti Sike selama ini, dia perhatian, baik dan selalu menolong saat Sike sedang kesusahan meskipun itu dalam bentuk yang tidak nyata dan spontan dari hatinya. Dia jarang sekali mengobrol secara langsung dengan Sike. Tapi berbeda halnya dengan maya, dia selalu hadir dengan penuh misteri. Sikapnya berubah-ubah seperti orang misterius, di dunia nyata berdiam diri seperti tidak perduli dengan semuanya, sedangkan di dunia maya dia bak sebuah hujan yang turun di kala panas menghampiri.
Tapi setelah sekian lama, Sike akhirnya tahu semua makna yang dia berikan kepadannya. Dia sosok teman yang sangat dibutuhkan Sike, dan bisa saja dijadikan sahabat oleh Sike. Namun semua terlambat .... hanya karena sikap rahasianya itu yang sangat misterius dan puitis, waktu tidak mau menunggu Sike. Sike baru menyadarinya setelah teman misteriusnya itu pergi.

Kembali ke balkon kamar ....

Tiba-tiba saat Sike mengingat kembali kenangan itu saat dia bersama dengan teman misteriusnya itu, Air mata jatuh menetes setetes demi setetes tepat di celana putihnya itu. Warna putihnya itu berubah menjadi putih tua yang sungguh pucat. Sike mengusap air mata tersebut. Namun semua tidak bisa terhapuskan. Air matanya sudah terlanjur banyak menetesi celana tersebut. Sike hanya bisa menangis untuk meluapkan segala perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. Sungguh .. dia merasa takut, jika harus kehilangan teman baiknya itu.
Jam menunjukan pukul 22.00 . Tak terasa hampir setengah jam dia bersedih di tempat yang mengetahui segalanya yang sedang ia rasakan selama ini. Sike pun kembali ke kamar dan berbaring di tempat tidur, tapi matanya masih merah dan bengkak karena kesedihannya tadi. Selain itu dia tidak bisa tidur setelah kejadia tersebut. Akhirnya dia berdoa kepada Sang Maha Penciptanya " Ya Allah ... jika dia benar-benar pantas menjadi sahabat baikku, maka pertemukanlah kami kembali dan jangan putuskanlah tali silaturahmi yang sudah kami jalin selama ini ya Allah..." Amin ... 

To be continue .... ;)
#Vierra - Seandainya