Newspaper

Newspaper

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kemurungan Sike

Di kala malam menutupi awan biru yang menyejukan hati. Terdapat sebuah makna yang sangat berarti di kala itu. Seorang remaja bernama Sike duduk di balkon kamarnya sambil menatap heningnya malam kala itu. Sambil ditemani secangkir teh hangat dan snack dia membayangkan sosok teman misteriusnya yang saat ini tidak akan lagi bersamanya. Di tatapnya bulan di langit, dibenaknya bertanya "Apakah dia disana juga sama sepertiku, merindukannya yang dulu selalu terlihat setiap pagi hingga sore hari" Seketika Sike mengehela napas ... Itu hanya kebimbangannya saja. Dia belum bisa mempercayai teman misteriusnya itu untuk saat ini, apakah dia dapat bertahan dengan kisah yang sudah ditentukan oleh Allah ini. Jawabnya adalah waktu ... karena hanya dengan waktu dia dapat mengerti jawaban dari semua kegundahannya. Apakah dia akan kembali atau pergi meninggalkannya. 
Ya ... benar, ini baru permulaan dari kisah Allah itu, perjalanan Sike masih panjang. Dan sekarang dia harus fokus untuk kehidupannya saat ini dan yang akan datang. Sike hanya bisa berdoa .... Bahwa dia berusaha untuk bertahan saat ini dan seterusnya untuk semua yang dia saat ini meskipun menurutnya, Sike sudah terlambat untuk meraih hal tersebut.
Teman misterius ?? Mengapa disebut teman misterius ?? Dia adalah teman yang selalu mengerti Sike selama ini, dia perhatian, baik dan selalu menolong saat Sike sedang kesusahan meskipun itu dalam bentuk yang tidak nyata dan spontan dari hatinya. Dia jarang sekali mengobrol secara langsung dengan Sike. Tapi berbeda halnya dengan maya, dia selalu hadir dengan penuh misteri. Sikapnya berubah-ubah seperti orang misterius, di dunia nyata berdiam diri seperti tidak perduli dengan semuanya, sedangkan di dunia maya dia bak sebuah hujan yang turun di kala panas menghampiri.
Tapi setelah sekian lama, Sike akhirnya tahu semua makna yang dia berikan kepadannya. Dia sosok teman yang sangat dibutuhkan Sike, dan bisa saja dijadikan sahabat oleh Sike. Namun semua terlambat .... hanya karena sikap rahasianya itu yang sangat misterius dan puitis, waktu tidak mau menunggu Sike. Sike baru menyadarinya setelah teman misteriusnya itu pergi.

Kembali ke balkon kamar ....

Tiba-tiba saat Sike mengingat kembali kenangan itu saat dia bersama dengan teman misteriusnya itu, Air mata jatuh menetes setetes demi setetes tepat di celana putihnya itu. Warna putihnya itu berubah menjadi putih tua yang sungguh pucat. Sike mengusap air mata tersebut. Namun semua tidak bisa terhapuskan. Air matanya sudah terlanjur banyak menetesi celana tersebut. Sike hanya bisa menangis untuk meluapkan segala perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. Sungguh .. dia merasa takut, jika harus kehilangan teman baiknya itu.
Jam menunjukan pukul 22.00 . Tak terasa hampir setengah jam dia bersedih di tempat yang mengetahui segalanya yang sedang ia rasakan selama ini. Sike pun kembali ke kamar dan berbaring di tempat tidur, tapi matanya masih merah dan bengkak karena kesedihannya tadi. Selain itu dia tidak bisa tidur setelah kejadia tersebut. Akhirnya dia berdoa kepada Sang Maha Penciptanya " Ya Allah ... jika dia benar-benar pantas menjadi sahabat baikku, maka pertemukanlah kami kembali dan jangan putuskanlah tali silaturahmi yang sudah kami jalin selama ini ya Allah..." Amin ... 

To be continue .... ;)
#Vierra - Seandainya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar