Sesampainya di Pulau Jawa ... Pulau yang terkenal dengan keramaian penduduknya, ramah (katanya) dan tentu pulau yang selalu di idam-idamkan pergi kesana oleh kebanyakan orang yang tinggal di pedesaan ataupun luar pulau Jawa. Termasuk Weka yang tertegun melihat pulau Jawa yang sekarang ia pijaki. Dia tidak menyangka, jika pulau bisa disulap seperti miniatur mainan adeknya yang ada di rumah. Weka kira itu hanya impian belaka. Ternyata tidak, itu nyata dan sekarang ia sedang menatapnya. Banyak mobil berbaris, truk dan lain sebagainya. Menurut Weka yang sama hanyalah langit, awan, matahari dan cahaya yang selalu setia menemani perjalanannya kali ini.
Pulau Jawa memiliki banyak kota/kabupaten. Dan yang sekarang sedang Weka pijaki adalah kota Yogjakarta. Menurutnya kota Jogja sungguh kota yang damai, oleh karena itu dia memilih untuk sekolah di Jogja. Adat istiadat disana masih terpakai sampai sekarang, orang-orangnya sopan dan masih terdapat pantai yang bisa ia jumpai setiap saat untuk sekedar mengingat pulau aslinya yang sangat ia rindukan. Weka disana tinggal di rumah saudaranya. Rumah tersebut tepat di belakang Keraton Yogjakarta. Mengapa demikian ?? Karena saudaranya tersebut menjadi "Abdi Dalem" disana. Weka merasa senang sekali, ia dapat mengenal Jogja lebih dalam lagi. Ia pun mulai tertarik dengan Bahasa Jawa halus yang merupakan "pakem" disana. Beberapa bahasa pun ia pakai seperti "Monggo, Nyuwun Sewu, Ngapunten" .
Beberapa hari di Jogja membuat Weka menjadi bisa berbahasa Jawa. Dia menjadi semakin bangga dengan Indonesia. Teman-temannya pun juga menghormatinya meskipun Weka bukan asli orang Jawa. Wajah dan logatnya pun berbeda. Meksipun begitu, Weka tetap berusaha agar ia tidak merasa asing dengan teman-temannya. Setiap sore dia selalu bersepeda mengelilingi kota sambil mencoba berbicang dengan orang asli Jogja. Sedikit demi sedikit ia mulai mengenal dan menjadi tertarik untuk tinggal di Jogja.
Keesokan harinya saat Weka kuliah, dia dan teman-temannya memutuskan untuk mencari bahan tugas mereka di pasar Bringharjo. Disana mereka akan bertanya-tanya dengan pedagang dan pembeli disana tentang cara dan bagaimana keadaan pasar tersebut. Dan karena Weka terlalu asyik dengan tugasnya tersebut, ia sampai berpencar dengan teman-temannya saat dia sedang berbicang dengan seorang "bakul bakpia" . Weka pun mulai bingung, saking bingungnya ia sampai menabrak seorang laki-laki berpakaian jawa dengan memakai beskap dan blangkon. Weka pun meminta maaf kepada pria tersebut dan akhirnya mereka saling menanyakan asal-usul mereka. Ternyata pria tersebut bernama Guno. Guno asli Jogja, dia tinggal tak jauh dari rumah Weka dan Guno lima tahun lebih tua dari Weka. Dan yang lebih mengejutkan lagi jurusan mereka sama. Jadi Weka bisa menanyakan tugasnya apabila ia belum mengerti. Guno akan siap membantu kapanpun Weka perlu bantuan .
Persahabatan mereka berlangsung lama sekali. Meskipun hampir setiap saat mereka bertemu, tapi itu tidak secara langsung. Semua mereka lalui dengan penuh kebahagiaan. Weka pun senang bisa memiliki sahabat seperti Guno, dia selalu menolong Weka saat ia perlu bantuan. Entah itu dalam materi kuliah ataupun dalam hal lainnya. Contohnya seperti memasak. Meskipun Guno seorang laki-laki, tapi ia pandai memasak, beberapa kali Weka meminta Guno untuk mengajarinya. Dan alhamdulillah sekarang Weka dapat memasak masakan Jawa. Mereka berdua memiliki impian yang sama yaitu dapat mendirikan restaurant sendiri yang bisa membantu keluarga mereka. Terkadang mereka sering membayangkan, akan membuat menu apa di restaurant mereka dan dengan model apa restaurant itu mereka buat.
Saat hari libur, Weka diajak Guno bersepeda bersama mengelilingi Joga. Namun tiba-tiba ban sepeda Weka terkena paku dan akhirnya kempes. Guno akhirnya membonceng Wena dan melanjutkan jalan-jalan mereka. Disana mereka berhenti di Malioboro. Guno mengajak Weka untuk melukis wajah mereka berdua di selembar kertas. Weka pun menyetujuinya. Disana mereka saling bercanda dan tertawa saat melihat tahapan-tahapan wajah mereka dilukis. Dan saat lukisan tersebut selesai dilukis, lukisan tersebut dibawa oleh Weka dan Guno yang masing-masing membawa satu lembar lukisan dengan lukisan yang sama.
Sesampainya di rumah, Weka mengambil lukisan tersebut dan meletakannya kedalam pigura dan dipajanglah lukisan tersebut di kamarnya. Begitu pula dengan Guno. Guno sangat senang bisa mendapatkan lukisan tersebut. Karena baru kali ini mereka bisa bersepeda bersama dan meluangkan waktu mereka berdua untuk saling bercerita bersama. Guno yang seorang pekerja dan Wena seorang mahaasiswi pastinya tidak akan bertemu setiap saat.
Liburan pun tiba. Weka memutuskan untuk berlibur ke pulau Moyo tempat tinggalnya.
Dan.... To be continue :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar