Newspaper

Newspaper

Kamis, 06 Desember 2018

Alogami AWAAM (Bagian 3)

          Alo ...
          Sepintas saja namun memiliki arti yang mendalam

          Di hari yang begitu cerah meskipun seharusnya di bulan-bulan seperti ini muncul awan mendung atau sekedar gerimis atau bisa jadi hujan deras disertai petir menggelegar. Cerah yang disuguhkannya ini menambah semangat Gami untuk beraktivitas.
          Berjalan kaki merupakan salah satu kegemaran Gami. Selain berolahraga, berjalan juga membuat rasa dan jiwa menjadi tentram. Sebab di perjalanan tersebut Gami bisa melihat pemandangan dan aktivitas yang terjadi di sekitarnya. Mulai dari daun dan bunga yang berguguran, penjual koran yang berusaha menjual dagangannya dan masih banyak lagi.
          Setelah aktivitas yang Gami lakukan hari ini berakhir. Gami memutuskan kembali ke rumah. Namun di perjalanan ia pulang :

          Pandangan dan tatapan itu kembali lagi untuk kedua kali menghampiri. Perasaan Gami semakin resah dan gundah mengguncang sanubari. Kali ini dalam situasi yang berbeda dimana Gami berjalan kaki sambil melihat pohon-pohon yang ada disekelilingnya menuju rumah, sedangkan dari arah pukul 06.00 pagi atau 11.30 siang dengan jarak sekitar 100 meter dari Gami, Alo menaiki motor dan melaju dengan kecepatan 10 km/jam menuju pintu keluar.
          Dan tiba-tiba tanpa disengaja dan direncakan... benar-benar tepat di detik yang sama arah pandangan mereka berdua pun sama yaitu tertuju pada mata. Alo menatap mata Gami dari kejauhan begitupun Gami. Tepat di detik itu juga, ketika Alo mendapat respon balik yang serupa ia langsung melambaikan tangannya, membungkukkan badannya, menundukkan mukanya dan memberikan sesimpul senyuman kepada Gami sambil berlalu. Sedangkan Gami dengan refleks membalas lambaian tangan tersebut dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah.
               
Namun tiga menit kemudian :

Tak biasanya dia berani menyapaku. Apalagi melambaikan tangannya sambil tersenyum begitu. (Gumam Gami)

           Pertemanan Alogami memang terkesan kompleks namun begitu unik. Sebab ketika Alo dan Gami diberikan kesempatan untuk saling mengobrol satu sama lain mereka seperti tidak ada jarak sejengkal pun hingga beberapa teman yang lain sangat iri dengan kedekatan mereka.

          Namun andai dan perlu kalian tahu. Sedekat-dekatnya mereka berdua ketika mengobrol begitu berbanding terbalik sekali saat mereka berdua bertemu dan berpapasan. Sebab setiap kali mereka berdua awal bertemu dan berpapasan entah di jalan atau dimanapun, mereka saling acuh.

          Nektar pernah berkata,
          Pertemanan Alogami sangat dikagumi banyak orang karena mereka tanpa ada rasa sungkan berani secara langsung mengoreksi kesalahan temannya tersebut. Namun permasalahan yang begitu butuh koreksian diantara mereka malah terabaikan karena dianggap begitu sepele. Permasalahan atas alasan mereka tak saling sapa jika bertemu dan berpapasan secara langsung.

          Nektar pernah berkata,

          Hehehe.... lucu mereka ini. Saling ingin sapa tapi keduanya gengsi nya nggak ketulungan.

          Gami pernah mengutarakan alasannya tersebut kepada Nektar. Dikatakannya bahwa sebenarnya dia ingin sekali menyapa Alo terlebih dahulu. Namun setiap kali Gami melihat respon awal Alo yang begitu acuh (wajah tak bersahabat), niat Gami untuk menyapa menjadi musnah meskipun Gami tahu jika itu merupakan tindakan yang tidak baik dan alasan yang begitu klise. Selain alasan itu, Gami juga memiliki alasan kedua yang menguatkan alasan pertamanya. Gami pernah memiliki pengalaman dimana ketika dia menyapa salah seorang teman cowok yang sebelumnya pernah basa-basi dengannya namun ketika disapa dia berpura-pura tidak mengenali Gami. Oleh karena itu, sejak saat itu Gami selalu melihat respon awal dari orang yang Gami ingin sapa terlebih dahulu.
          Sedangkan dari pihak Alo saat ditanya oleh Nektar, dirinya memberikan alasan yang sangat mencengangkan. Jawaban itu sungguh diluar ekspektasi seorang Nektar.

          Ya beginilah sifat dan karakterku, Tar. Mohon dimaklumi ya ... tergantung dengan suasana 
          hati. Moody an lebih tepatnya.

          Saat Nektar menceritakan hal tersebut kepada Gami, Gami tertawa terbahak-bahak. Sebab baru kali ini dia menemukan seorang teman pria dimana menyapa seorang teman tergantung dengan suasana hati. Oleh karena alasan tersebut, sejak saat itu Gami tak pernah menyapa Alo terlebih dahulu begitupula dengan Alo.


Dia benar-benar menyapaku terlebih dahulu?
             
          Gami merasakan gesture yang berbeda dari Alo. Meskipun sikap dan kejadian tersebut terkesan biasa saja dan memang wajar dilakukan. Namun sikap itu benar-benar tidak dibuat-buat oleh Alo dan teraplikasikan secara natural dan nyata. Gami merasa bahwa sikap yang diberikan Alo refleks dari dalam benak dan dirinya. Sebab di detik yang sama pula, tepat di belakang Alo terdapat teman Alogami bernama Putik yang juga tercengang melihat sikap Alo yang demikian. Putik berhenti sejenak saat melihat kejadian itu dan menatap Alo maupun Gami secara bergantian (Tatapan tercengang).

Mengapa, Alo ? Mengapa demikian ?

Alo berhak bersikap seperti itu kepada siapapun termasuk Gami. Sedangkan Gami tak boleh memaksakan Alo untuk tidak bersikap demikian kepadanya.

Pada dasarnya, sebelum adanya ikatan antara keduanya dimana terdapat kesepakatan tentang hal tersebut. Maka semua orang berhak bersikap seperti itu kepada siapapun tanpa terkecuali. Terikat pun tak boleh hingga erat-erat. Sebab jika begitu erat segalanya akan menimbulkan debat.

Meskipun Alo telah berkata tidak dari mulutnya. Namun tak menutup kemungkinan jika ternyata sebaliknya. Sebab perkataan dari bibir bisa saja berdusta. Sedangkan hati tidak.

Bersikap sewajarnya diiringi saling mengenal kepribadian masing-masing tak ada salahnya.
Sebab kita tidak akan ada yang tahu kedepannya.

Se bersikerasnya pun alasan yang didasarkan pada perbedaan prinsip yang ada.
Jika Sang Pencipta berkenan apa mau dikata.

Oleh karena itu biarlah mengalir apa adanya.
Berteman sebanyak-banyaknya.
Membuka pandangan seluas-luasnya.

Bersambung ...

Dudy Oris - Aku yang Jatuh Cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar