Newspaper

Newspaper

Minggu, 17 Maret 2019

Pembaca Semesta (PS) #2 - Metamorfosa Tumbuhan

         Siapa yang tidak mengenal dirinya. Sosok yang selalu terlihat di sepanjang mata memadang diluar sana dengan beragam warna dan bentuk yang menyejukan sanubari. Tak banyak yang memahami keistimewaan dari kepribadian dirinya yang teramat dan patut untuk dijadikan panutan dalam bersikap dalam kehidupan nyata. 
        Sebut dia Tanaman. Benar, tanaman. Dia begitu rendah hati, tanpa pamrih dan tanpa perlu berbising kesana-kemari ia menunjukan pancaran karakter yang mulia dengan sendirinya. Pengorbanannya yang sangat besar hanya untuk mempertahan kehidupan orang lain tak perlu di remehkan lagi. 
        Unsur hara, air, karbon dioksida, dan cahaya merupakan sahabat seperjuangan dan sahabat sejati yang benar-benar memahami kepribadiannya tanpa terkecuali. Sedangkan kita sebagai manusia tak banyak yang mengerti atau memahami begitu besar sumbangsihnya kepada diri ini. 
        Diri ini dan dirinya sama-sama makhluk ciptaan-Nya yangmana kita juga mempercayai bahwa dirinya berkembang, tumbuh, dan juga bernapas. Hanya saja mereka tak banyak dalam bercakap namun banyak dalam bertindak. 
        Dirimu begitu tertutup akan kepribadianmu. Dirimu berkembang disaat diri ini terlelap di malam hari penuh mimpi. Namun saat pagi hari, saat dimana diri ini terbangun dan sadar akan indahnya hari. Dirimu telah menjelma menjadi sosok teristimewa yang memikat setiap khalayak di muka bumi.
        Bunga yang sebelumnya kuncup bermetamorfosis menjadi mahkota yang sungguh menawan. Kemudian bunga kembali bermetamorfosis menjadi buah yang begitu menyegarkan dahaga. 
        Dan ... disaat itulah tanpa pamrih kau merelakan dan memberikan separuh jiwamu itu tuk membuat kami tetap bertahan hidup. Tak ada perlawanan sama sekali darimu. Walau sebenarnya jika kau diperbolehkan berkata, merasakan, ataupun menitipkan pesan pasti dirimu akan menitihkan air mata saat tiba saatnya dirimu melepaskan belahan jiwamu yang sejauh ini telah dirimu besarkan dengan penuh perjuangan. Dirimu merelakannya dengan ikhlas. 
        Dirimu juga sosok yang pantang menyerah dimana tak pernah meratapi kehilangannya dengan penuh kesedihan. Meski kenyataannya dirimu akan selalu merasakan kehilangan setiap musim itu tiba. 
        Terkadang diri ini masih belum puas merampas sebagian kebahagiaanmu (separuh jiwa) yaitu dengan memusnahkan dan membunuh dirimu sekaligus dengan sadis dan besar-besaran tanpa mau menanaman atau mereboisasimu kembali. 
        Diri ini memang begitu pendosa. Jarang sekali menghargai hal-hal kecil yang begitu berharga sebenarnya ada di sekeliling kita. Sosok yang sama dengan kita (makhluk hidup) saja terabaikan. Apalagi sosok-sosok lain yang pasti memiliki kebaikan lain yang berbeda-beda pula. 
        Maafkanlah diri ini kawan. Mungkin inilah hikmah dari membaca bukan hanya melalui sebuah kertas. Melainkan membaca lingkungan, membaca semesta yang sebenarnya juga bisa menjadi sebuah pelajaran berharga.
        Terima kasih Sang Pencipta seluruh alam. Teramat luar biasa, hingga diri ini tak bisa berkata-kata. Bersyukur atas ilmu yang beragam tempat bisa ku dapat. 


22.29 170319

Tidak ada komentar:

Posting Komentar